Indonesia merupakan pusat dari Segitiga Karang Dunia atau Coral Triangle, sebuah kawasan perairan yang membentang seluas 6 juta kilometer persegi. Kawasan strategis ini melintasi enam negara anggota, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Timor Leste, dan Kepulauan Solomon. Sebagai jantung utama dari kawasan tersebut, Indonesia menyumbang antara 10% hingga 16% dari total luas terumbu karang secara global. Kekayaan alam bawah laut Nusantara sangat luar biasa, terbukti dengan keberadaan lebih dari 590 spesies karang keras yang mewakili 71% dari total spesies di dunia. Ekosistem ini juga menjadi habitat dan tempat bernaung bagi sekitar 2.200 jenis ikan. Secara global, meskipun terumbu karang hanya menutupi 1% dari lautan dunia, ekosistem ini mampu menyediakan habitat bagi setidaknya 25% kehidupan laut.
Selain fungsi ekologisnya yang vital, terumbu karang juga memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi bagi masyarakat pesisir dan industri perikanan di berbagai belahan dunia. Sebagai perbandingan, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) memperkirakan bahwa nilai komersial perikanan Amerika Serikat yang berasal dari ekosistem terumbu karang mencapai lebih dari 100 juta dolar AS per tahun. Secara global, riset yang dilakukan oleh Mitchell B. Lyons dan tim pada tahun 2024 memaparkan bahwa luas terumbu karang dangkal di seluruh dunia mencapai 348.361 kilometer persegi, dengan luas habitat karang mencapai 80.213 kilometer persegi. Mengingat betapa berharganya ekosistem ini, langkah-langkah pelestarian harus segera diterapkan agar terumbu karang tidak mengalami kerusakan permanen akibat perubahan iklim.








