Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa kondisi defisit yang membayangi neraca perdagangan Indonesia belakangan ini bukan disebabkan oleh melemahnya kinerja ekspor nasional. Faktor utama yang memicu defisit tersebut adalah lonjakan harga minyak bumi di pasar global yang secara signifikan mendorong kenaikan nilai impor. Penjelasan ini meluruskan kekhawatiran publik mengenai daya saing komoditas ekspor Indonesia yang sebenarnya masih menunjukkan kinerja positif dan tumbuh secara konsisten sepanjang semester I-2026.
Berikut adalah penjelasan mengenai dinamika perdagangan luar negeri Indonesia serta faktor-faktor yang memengaruhinya berdasarkan data resmi dari pemerintah dan Badan Pusat Statistik (BPS).
Mengapa neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit pada periode belakangan ini?
Defisit yang terjadi pada neraca perdagangan Indonesia utamanya dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia yang mendongkrak nilai impor, bukan karena kinerja ekspor yang melemah. Berdasarkan data BPS, Indonesia mencatatkan defisit neraca perdagangan sebesar US$450 juta pada Juni 2026. Defisit pada bulan tersebut sebagian besar disebabkan oleh sektor minyak dan gas bumi (migas) yang mengalami defisit hingga US$3,49 miliar. Komoditas utama yang menyumbang defisit migas ini adalah hasil minyak serta minyak mentah. Lonjakan harga minyak mentah global yang sempat menembus angka di atas US$110 per barel pada kurun Maret hingga April, dari yang sebelumnya berada di bawah US$100 per barel, berimbas langsung pada biaya impor. Akibatnya, rata-rata harga satuan impor per ton pada Juni mengalami kenaikan sekitar 14 persen jika dibandingkan dengan Maret.
Bagaimana kinerja ekspor Indonesia sepanjang semester I-2026?
Bursa Mineral ICOMEX Bakal Dibentuk Hari Ini, Beroperasi 4 Januari 2027

Meskipun dihadapkan pada tekanan harga energi global, aktivitas ekspor Indonesia sepanjang semester I-2026 tetap menunjukkan pertumbuhan yang positif. Menurut penjelasan Budi Santoso, ekspor Indonesia selama periode Januari hingga Juni tumbuh sebesar 4,1 persen. Apabila dilihat dari perbandingan bulanan, kinerja ekspor nasional dari Mei ke Juni mencatatkan peningkatan sebesar 9,7 persen. Pertumbuhan ini mengindikasikan bahwa permintaan pasar internasional terhadap produk-produk asal Indonesia masih berada dalam kondisi yang stabil.
Berapa total surplus perdagangan kumulatif yang berhasil dicatat oleh pemerintah?
Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia sepanjang periode Januari hingga Juni 2026 masih mencatatkan surplus. BPS mencatat surplus kumulatif pada periode tersebut mencapai US$3,58 miliar. Budi Santoso juga memaparkan bahwa surplus perdagangan Indonesia menyentuh angka US$3,5 miliar. Meskipun pada Mei neraca perdagangan sempat mengalami defisit sebesar US$1,6 miliar, kondisi tersebut membaik pada bulan berikutnya dengan nilai defisit yang menyusut menjadi US$450 juta pada Juni.
Sektor dan negara mana saja yang menjadi penyumbang surplus terbesar bagi Indonesia?
The Fed Naikkan Suku Bunga, Bursa Asia Kompak Menguat

Surplus perdagangan kumulatif selama semester I-2026 sangat ditopang oleh kinerja ekspor sektor nonmigas. Sektor ini berhasil membukukan surplus yang sangat besar, yaitu mencapai US$19,35 miliar. Surplus nonmigas tersebut mengompensasi defisit di sektor migas yang tercatat sebesar US$15,77 miliar. Di samping itu, Indonesia juga berhasil mempertahankan tren surplus perdagangan dengan beberapa negara mitra dagang utama. Secara kumulatif, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan sebesar US$8,55 miliar dengan Amerika Serikat, diikuti dengan surplus sebesar US$6,68 miliar dengan India, serta surplus sebesar US$4,24 miliar dengan Filipina.
Bagaimana hasil simulasi pemerintah terkait dampak harga minyak terhadap neraca perdagangan?
Untuk menganalisis pengaruh fluktuasi harga energi secara lebih detail, pemerintah melakukan simulasi perhitungan neraca perdagangan. Berdasarkan simulasi tersebut, apabila harga minyak dunia diasumsikan sama dengan tingkat harga pada Maret, dengan volume ekspor serta impor yang berjalan seperti saat ini, maka neraca perdagangan Indonesia diproyeksikan tidak akan mengalami defisit. Hasil simulasi menunjukkan bahwa Indonesia justru akan mencatatkan surplus sebesar US$2,73 miliar. Simulasi ini memberikan bukti bahwa faktor utama yang menekan neraca perdagangan nasional saat ini merupakan dampak dari kenaikan harga komoditas minyak global yang meningkatkan nilai impor, bukan karena melemahnya ekspor.






