Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 1% atau terpangkas 66,50 poin ke level 6.611,70 pada perdagangan Kamis (10/9/2026) pukul 14.25 WIB. Padahal, laju indeks sempat menguat hingga menembus level 6.700 di awal sesi perdagangan dengan posisi tertinggi di 6.712,50, sebelum akhirnya berbalik arah dan menyentuh titik terendah harian di 6.608,21.
Pembalikan arah IHSG ini dipicu oleh kombinasi sentimen global dan tekanan jual modal asing. Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent melonjak hingga melampaui US$101 per barel akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Pada saat bersamaan, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) bertenor 10 tahun masih bertengger di kisaran 4,86%, mendekati rekor tertinggi sejak November 2023.
Harga Minyak Bertahan di Atas US$100 Imbas Selat Hormuz Kian Mencekam

Kondisi tersebut memicu aksi jual investor asing di pasar modal domestik. Berdasarkan data Stockbit Sekuritas hingga penutupan sesi I, pemodal asing mencatatkan transaksi net foreign sell senilai Rp1,31 triliun, yang berasal dari total penjualan asing sebesar Rp4,02 triliun berbanding pembelian Rp2,71 triliun.
Aksi jual asing terpantau menyasar saham-saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan. Saham BBCA mencatat net foreign sell sebesar Rp276,20 miliar, diikuti BBRI senilai Rp116,19 miliar, AMMN Rp36,17 miliar, dan BMRI sebesar Rp17,14 miliar.
Harga Saham Bergerak Liar, BEI Pantau Ketat 5 Emiten Ini

Secara rinci, saham BYAN anjlok 3,99%, BBRI turun 2,92%, AMMN terdepresiasi 1,83%, dan BBCA melemah 1,15%. Pelemahan paling dalam tercatat pada sektor kesehatan yang turun 1,51%, disusul sektor keuangan sebesar 0,65%, industri 0,27%, dan teknologi 0,01%. Secara keseluruhan, sebanyak 495 saham bergerak di zona merah, 172 saham menguat, dan 296 saham lainnya stagnan.






