Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Filianingsih Hendarta membawa kabar kurang menggembirakan usai menghadiri pertemuan G20 di Amerika Serikat (AS). Ia menyebutkan bahwa kondisi perekonomian global saat ini masih dibayangi oleh ketidakpastian serta gejolak yang tinggi, menandakan bahwa situasi dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Filianingsih dalam acara Lampung Financial Festival 2026 pada Sabtu, 5 September 2026. Ia menilai bahwa dinamika yang melanda perekonomian global saat ini telah mengalami pergeseran, yakni bukan lagi sekadar berada pada fase ketidakpastian (uncertainty), melainkan telah beralih menuju fase yang benar-benar sulit diprediksi (unpredictability).
Dinamika Global dan Analogi Bajaj
Filianingsih memaparkan bahwa tantangan dan gejolak global yang masih tinggi tersebut dipicu oleh berbagai faktor internasional. Salah satu sentimen utama yang masih terus menghantui perekonomian dunia adalah berlanjutnya perang di kawasan Timur Tengah.
38 Bank di RI Sudah Ditutup Dalam 3 Tahun, Ini Penjelasan dan Prosedurnya

Guna menggambarkan betapa sulitnya membaca arah perekonomian dunia saat ini, Filianingsih mengibaratkan kondisi global seperti kendaraan bajaj di Jakarta. Pergerakan ekonomi dunia dinilai sulit ditebak arahnya, apakah akan terus berjalan lurus, berbelok ke kanan, atau ke kiri, di mana arah pergerakan tersebut diibaratkan hanya diketahui oleh sopir bajaj dan Tuhan.
Ketahanan Ekonomi dan Inflasi Indonesia
Di tengah bayang-bayang ketidakpastian dan gejolak global tersebut, kinerja perekonomian domestik Indonesia dinilai masih menunjukkan performa dan ketahanan yang positif. Realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat mencapai 5,29% pada kuartal II-2026, melanjutkan capaian pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 yang tercatat sebesar 5,6%.
BI Beberkan Kunci Utama agar Rupiah Mampu Perkasa Melawan Dolar AS

Selain pertumbuhan ekonomi yang solid, tingkat inflasi di dalam negeri juga dilaporkan tetap terkendali. Laju inflasi Indonesia saat ini masih berada dalam batas rentang target yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, yakni pada kisaran 2,5% plus minus 1%.
Untuk prospek keseluruhan tahun 2026, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada pada rentang 4,9% sampai 5,7%. Sementara itu, tingkat inflasi nasional diperkirakan akan tetap konsisten berada di dalam sasaran target BI.






