Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengungkapkan bahwa sebagian besar warga yang mengungsi di Nusa Tenggara Timur (NTT) didorong oleh rasa takut terhadap gempa susulan. Kekhawatiran masyarakat tersebut semakin meningkat akibat maraknya informasi simpang siur di media sosial.
Hal tersebut disampaikan Suharyanto saat menghadiri rapat koordinasi penanganan dampak bencana gempa NTT yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di Nagekeo, NTT, pada Rabu (26/8). Berdasarkan data BNPB, total warga yang berada di pengungsian telah mencapai 179.037 jiwa.
Bisakah Memadamkan Kebakaran dengan Tepung Ubi? Ini Catatan Riset dan Wacana Pemerintah

Suharyanto menjelaskan, aktivitas kegempaan di wilayah tersebut masih tercatat tinggi sejak gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang pada Sabtu (15/8). Hingga Selasa (27/8), tercatat sebanyak 7.259 kali gempa susulan, dengan 142 kejadian di antaranya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Menurut Suharyanto, lonjakan jumlah pengungsi bukan semata-mata dipicu oleh kerusakan fisik bangunan rumah warga, melainkan karena kepanikan atas frekuensi gempa susulan yang terus terjadi. Kondisi psikologis warga kian terbebani oleh kabar bohong yang beredar di platform digital.
Prabowo Kunjungi Nagekeo NTT, Wilayah Terparah yang Dilanda Gempa

Isu yang beredar di media sosial menyebutkan potensi datangnya gempa susulan yang jauh lebih besar hingga ancaman gelombang tsunami. Menyikapi hal tersebut, BNPB bergotong royong bersama seluruh unsur terkait untuk meluruskan informasi yang keliru dan memberikan edukasi langsung agar masyarakat tidak terpancing kepanikan.






