Rencana pemanfaatan bahan pemadam api berbasis tepung singkong atau ubi kayu menjadi perbincangan publik usai Presiden Prabowo Subianto mendorong pengembangannya sebagai alternatif penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Gagasan tersebut memicu perhatian luas terkait efektivitas serta keamanan penggunaan serbuk pangan tersebut di lapangan.
Wacana ini mengemuka saat Presiden memimpin rapat koordinasi penanganan karhutla di Sumatra Selatan pada Senin, 24 Agustus 2026. Dalam forum tersebut, Kapolri Listyo Sigit Prabowo memaparkan adanya inovasi berbasis tepung ubi yang diklaim mampu memisahkan kontak antara api, oksigen (O2), dan karbon dioksida (CO2) guna memadamkan kebakaran pada tahap awal.
Menanggapi paparan itu, Presiden menyebut konsep penjatuhan bahan tepung dari pesawat atau helikopter sebagai istilah ubi bombing untuk melengkapi metode water bombing. Pemerintah pun diminta melakukan riset mendalam, menguji coba penyebaran bahan via udara, serta menyusun alokasi anggaran demi kebutuhan produksi skala besar.
Kepala BNPB Ungkap Banyak Warga NTT Mengungsi gegara Takut Gempa Susulan

Risiko Debu dan Bukti Ilmiah Pembakaran
Kendati inovasi tersebut tengah didorong pemerintah, literatur ilmiah mencatat bahwa penggunaan serbuk tepung mentah langsung ke titik api memiliki risiko tinggi. Pati singkong dalam wujud partikel debu yang tersuspensi di udara tergolong mudah terbakar dan berpotensi memicu deflagrasi atau ledakan debu (dust explosion).
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Processes pada 16 November 2022 oleh Ruichong Zhang dan Chengyu Xie mendokumentasikan karakteristik pembakaran dan bahaya ledakan dari sebaran debu pati singkong. Sifat mudah terbakarnya partikel ini juga pernah dikaji dalam tesis magister di Chulalongkorn University pada 1996, yang menguji serbuk tepung singkong bercampur udara sebagai bahan bakar pembakar (burner).
Lembaga edukasi keselamatan Fire Fighter Now pada 25 Oktober 2021 turut mengingatkan bahwa melempar tepung kering ke atas api justru memperluas bidang kontak bahan dengan panas dan oksigen. Tindakan tersebut berisiko memperbesar kobaran alih-alih meredakannya.
BNPB Ungkap Masih Banyak Warga NTT Takut Gempa Susulan, Diperparah Isu di Medsos

Potensi Efektif Melalui Rekayasa Hidrogel
Kajian ilmiah menunjukkan tepung ubi baru memiliki sifat pemadam jika telah direkayasa secara kimiawi menjadi material penahan panas, bukan ditebarkan dalam bentuk serbuk murni.
Hal ini dibuktikan dalam riset tahun 2023 oleh Le Thao Uyen dan Nguyen Le Viet Hoang dari Tuyen Quang Upper Secondary School for the Gifted. Studi tersebut berhasil mensintesis polimer superabsorben dari pati tapioka menjadi hidrogel tahan api (flame-retardant hydrogel). Dalam bentuk olahan hidrogel tersebut, material berbasis tapioka terbukti memiliki performa yang baik untuk mencegah sekaligus memadamkan api.






