Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 98.986 rumah warga mengalami kerusakan akibat gempa bumi yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari total laporan awal kerusakan tersebut, tim di lapangan terus memperbarui validasi data fisik bangunan terdampak.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan (Pusdatin) BNPB, Berton Panjaitan, menyampaikan bahwa dari keseluruhan data masuk, sebanyak 51.591 rumah telah selesai diverifikasi. Pendataan ini memilah kerusakan riil menjadi kategori rusak berat, sedang, dan ringan, sekaligus mengoreksi laporan awal.
Dari jumlah yang telah terverifikasi, tercatat 2.382 rumah mengalami rusak berat, 7.276 rumah rusak sedang, dan 14.177 rumah rusak ringan. Sementara itu, sebanyak 27.756 rumah yang sempat dilaporkan ternyata dinyatakan tidak memenuhi kriteria kerusakan alias dalam kondisi aman.
DPR Soroti Penanganan Kebakaran Hutan dan Bencana yang Belum Terpadu

Selain sektor perumahan, kerusakan turut melanda 712 fasilitas umum. Angka tersebut mencakup kerusakan pada 157 fasilitas kesehatan dan 663 gedung perkantoran di berbagai daerah terdampak di NTT.
BNPB juga melaporkan total korban meninggal dunia mencapai 135 orang, yang terdiri atas 48 korban akibat dampak langsung dan 87 korban akibat dampak tidak langsung. Adapun korban luka-luka tercatat sebanyak 1.763 orang, sedangkan jumlah warga yang mengungsi mencapai 70.382 jiwa.
BNPB Verifikasi 51.591 Rumah Rusak Akibat Gempa NTT

Guna menopang kebutuhan warga terdampak, bantuan logistik sebanyak 2.165 ton serta 12 ton barang keperluan sehari-hari telah disalurkan. Distribusi bantuan tersebut menjangkau sejumlah wilayah, di antaranya Ngada, Maumere, Manggarai, Nagekeo, dan Sikka.






