Rentetan bencana alam dahsyat melanda berbagai belahan dunia dalam kurun waktu satu bulan terakhir di tengah meningkatnya ancaman cuaca ekstrem yang dikaitkan dengan fenomena Super El Ni帽o. Rangkaian peristiwa mulai dari gempa bumi berkekuatan besar, banjir bandang mematikan, hingga letusan gunung berapi memicu korban jiwa dalam jumlah masif serta kerugian material yang signifikan di sejumlah negara.
Salah satu bencana paling mematikan terjadi di Nepal utara pada 26 Agustus. Runtuhnya gletser memicu longsoran es dan bebatuan yang seketika berubah menjadi banjir bandang besar ke kawasan lembah. Terjangan air menyapu permukiman warga, jembatan, jalan raya, dan fasilitas pembangkit listrik tenaga air. Bencana hidrometeorologi ekstrem ini menewaskan lebih dari 1.000 orang serta meluas dampaknya hingga ke wilayah Tibet, China.
Sebelumnya, gempa bumi hebat berkekuatan 7,4 magnitudo mengguncang Kolombia pada 10 Agustus 2026 dan menjadi salah satu lindu terkuat di negara tersebut dalam beberapa dekade terakhir. Gempa ini meremukkan sentra perkebunan kopi dan meruntuhkan berbagai bangunan. Hingga pertengahan Agustus, tercatat 289 orang tewas, 4.187 orang terluka, dan 143 lainnya hilang, dengan total kerugian ekonomi diperkirakan mencapai US$9,57 miliar.
Infografis, Barang Wajib Dalam Tas Darurat Kebencanaan

Di Indonesia, aktivitas vulkanik meningkat drastis setelah Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi terus-menerus selama sekitar 25 jam sejak 4 September 2026. Semburan material vulkanik tersebut memicu penangguhan operasional bandara dan mengganggu ratusan jadwal penerbangan pada rute regional Asia Tenggara, termasuk jalur udara di sekitar Jakarta.
Wilayah Asia lainnya juga menghadapi terpaan badai ekstrem. Di China, Topan Saudel memaksa otoritas mengevakuasi hampir 600.000 orang dari area rawan banjir di Provinsi Fujian, sementara 128.000 penduduk di 53 wilayah Provinsi Jiangxi turut terdampak. Di Filipina, banjir besar akibat dorongan monsun barat daya atau habagat menelan setidaknya 39 korban jiwa hingga 2 September.
Hampir Dua Pekan Belajar di Teras, Siswa SMPN 1 Pacar masih Dibayangi Trauma Gempa

Sementara itu di Pasifik dan Amerika Utara, ancaman cuaca ekstrem belum mereda. Kepulauan Hawaii bersiap menghadapi terjangan Badai Lowell yang berpotensi memicu angin kencang, tornado, serta arus laut berbahaya, sehingga memicu penutupan sekolah dan perkantoran di Kauai serta Niihau. Pada saat bersamaan, Pemerintah Kanada mengeluarkan peringatan resmi terkait risiko kebakaran hutan pada September yang diproyeksikan melonjak lebih tinggi dari level normal di sebagian besar wilayahnya.






