PT MRT Jakarta terus memperluas fungsi stasiun transit agar tidak sekadar menjadi tempat naik dan turun penumpang, melainkan simpul penggerak kawasan melalui pendekatan placemaking. Konsep pengembangan kawasan yang bertumpu pada karakter lokal dan ruang interaksi publik ini telah diterapkan di kawasan Blok M dan disiapkan untuk kawasan bersejarah Kota Tua.
Kepala Divisi Business Planning & Expansion Division MRT Jakarta, R. Samuel Ryan Pradipta Pranowo, dalam forum MRTJ Fellowship Program 2026, menyampaikan bahwa placemaking dan Transit Oriented Development (TOD) saling melengkapi. Implementasi konsep ini tidak berhenti pada fisik stasiun, melainkan mencakup konektivitas, kenyamanan lingkungan, identitas visual, serta aktivitas dan interaksi sosial masyarakat di sekitarnya.
Kawasan Blok M di Jakarta Selatan menjadi contoh implementasi strategi tersebut. Kawasan ini dikembangkan sebagai urban youth hub sekaligus pusat gaya hidup dan kuliner, memadukan dinamika komunitas muda dengan sentuhan nostalgia yang melekat pada kawasan tersebut.
Pemerintah Targetkan Implementasi E20 dalam Dua Tahun, Siapkan 2 Juta Hektare Lahan Tebu

Aktivitas komunitas dan ekonomi kreatif di sekitar stasiun dinilai memberikan efek ekonomi berantai yang nyata. Mengutip riset dari Stanford University, Samuel memaparkan bahwa kegiatan ekonomi kreatif dan sektor MICE (meeting, incentive, convention, and exhibition) dapat memicu efek pengganda (multiplier effect) hingga 4 sampai 5 kali lipat dari nilai ekonomi langsung kegiatan tersebut. Pada perhelatan skala besar, seperti konser musisi internasional di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), dampaknya diperkirakan mencapai 7 hingga 8 kali lipat.
Rencana Penataan Heritage Kota Tua
Pendekatan serupa direncanakan untuk kawasan Kota Tua di koridor utara. MRT Jakarta berencana merevitalisasi area cagar budaya ini dengan tetap mempertahankan ciri khas historisnya, seperti kawasan Pecinan (Chinatown) dan arsitektur Little Amsterdam, sembari mengisi ruang-ruang tersebut dengan fungsi ritel dan wadah interaksi komunitas.
Diduga Peras Investor Rp1,3 M, Kades di Subang Jadi Tersangka

Selain bangunan bersejarah, karakter Glodok yang identik sebagai pusat niaga elektronik juga akan diintegrasikan dengan elemen modern. Penggabungan identitas sejarah dan fungsi komersial kekinian ini ditujukan agar kawasan Kota Tua tetap dinamis dan relevan bagi publik.
Terkait kepastian dimulainya proyek penataan kawasan Kota Tua, MRT Jakarta masih berfokus merampungkan konstruksi fisik pada rute lanjutan. Target operasional terdekat diarahkan pada penyelesaian Stasiun Thamrin dan Stasiun Monas yang dijadwalkan mulai beroperasi pada Desember 2027. Sementara itu, jaringan MRT koridor Utara-Selatan (North-South) secara keseluruhan ditargetkan tersambung penuh hingga Stasiun Kota Tua pada 2029.






