Badan Reserse Kriminal Kepolisian Negara Republik Indonesia (Bareskrim Polri) kini tengah gencar melakukan perburuan terhadap seorang warga negara asing asal China yang memiliki inisial CW. Sosok CW ini diduga kuat berperan sebagai dalang utama di balik tindak pidana manipulasi dokumen dalam skema penipuan Business Email Compromise atau yang biasa dikenal sebagai BEC. Dalam upaya melacak keberadaan serta memastikan identitas asli dari CW, pihak Bareskrim Polri tidak bekerja sendirian. Aparat kepolisian Indonesia secara aktif melakukan koordinasi dengan lembaga penegak hukum asal Amerika Serikat, yaitu Federal Bureau of Investigation atau FBI. Kerja sama internasional ini dilakukan guna menelusuri jejak digital, identitas, maupun lokasi persembunyian CW.
Penyelidikan yang dilakukan oleh pihak kepolisian mengungkap bahwa CW menjalankan aksinya dengan memanfaatkan jaringan lokal di Indonesia. Dalam mempersiapkan sarana kejahatannya, CW meminta bantuan kepada seorang warga negara Indonesia (WNI) yang berinisial LPK. CW menginstruksikan LPK untuk mengurus seluruh proses legalitas pendirian sebuah perusahaan di Indonesia. Perusahaan tersebut akhirnya berhasil didirikan dan terdaftar secara resmi dengan nama PT Aksesoris Andalan Bersama. Untuk memuluskan proses administrasi, CW secara sengaja menggunakan identitas dari anak kandungnya sendiri serta mencantumkan alamat fiktif sebagai domisili perusahaan tersebut. Selain berhubungan dengan LPK, CW juga diketahui menjalin komunikasi intensif dengan LJ, seorang warga negara China lainnya yang diketahui telah menetap dan tinggal di Indonesia sejak tahun 2005.
Pengembangan 24 Area Komersial di Jalur Bawah Tanah Stasiun Bundaran HI

Dalam melancarkan aksi kejahatan siber ini, sindikat yang dipimpin oleh CW menggunakan metode yang cukup rapi. Mereka merancang dan membuat skrip malware khusus yang sengaja ditujukan untuk menyusup ke dalam akun email bisnis milik para korban. Salah satu perusahaan yang menjadi target utama dari skema manipulasi email bisnis ini adalah IQ Power Tools (IPT), sebuah perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat. Melalui penyusupan sistem ini, para pelaku berhasil memantau dan mengawasi setiap komunikasi terkait transaksi bisnis yang sedang berjalan antara IQ Power Tools selaku pembeli dengan Duro Machinery. Duro Machinery sendiri merupakan sebuah perusahaan penyuplai perangkat keras (hardware) asal China yang menjadi mitra bisnis dari IQ Power Tools.
Setelah berhasil memantau alur komunikasi transaksi tersebut, para pelaku kemudian melancarkan taktik penipuan mereka. Sindikat ini membuat sebuah akun email baru yang tampilannya sengaja dibuat sangat mirip atau menyerupai akun bisnis resmi milik Duro Machinery, perusahaan asal China tersebut. Menggunakan akun email tiruan itu, tersangka kemudian menghubungi pihak korban dan menginstruksikan mereka untuk mengalihkan transaksi pembayaran yang seharusnya dikirim ke rekening resmi Duro Machinery. Untuk meyakinkan korban, tersangka berdalih bahwa pengalihan pembayaran tersebut harus dilakukan karena pihak mereka sedang menghadapi proses audit yang tengah dijalankan oleh salah satu komisi pengawasan di sana. Akibat manipulasi informasi ini, pihak korban teperdaya dan mengirimkan dana hingga mengalami kerugian finansial yang mencapai US$ 350.325.
Kepala BGN Sebut Siswa SMAN 1 Berastagi Trauma Usai Kasus Keracunan Makanan Bergizi Gratis

Untuk menampung dana hasil kejahatan transfer tersebut, para pelaku telah menyiapkan rekening bank BCA di Indonesia yang dibuat atas nama perusahaan mereka, yaitu PT Aksesoris Andalan Bersama. Setelah menerima laporan, penyidik Bareskrim Polri segera melakukan penelusuran mendalam terhadap aliran dana tersebut. Hasilnya, penyidik berhasil menemukan dan memblokir saldo yang tersisa di dalam rekening BCA tersebut sebesar kurang lebih US$ 285.859, atau setara dengan nilai Rp 5 miliar. Meskipun sebagian besar dana berhasil diselamatkan dan diblokir, penyelidikan menunjukkan bahwa para tersangka sebelumnya telah sempat memindahkan sebagian uang hasil penipuan tersebut. Tercatat, uang senilai US$ 70.000 telah dikirimkan oleh para tersangka ke sejumlah rekening bank yang berada di China segera setelah mereka menerima transfer dana dari pihak korban.






