Sistem pengelolaan limbah rumah tangga di Kabupaten Banyuwangi kian menarik perhatian nasional. Melalui inisiatif Program Banyuwangi Hijau, daerah di ujung timur Pulau Jawa ini dinilai sukses menggerakkan pengolahan sampah berbasis masyarakat dari skala rumah tangga hingga fasilitas pengolahan terpadu. Model ini kini diproyeksikan sebagai rujukan tata kelola persampahan terpadu bagi wilayah lain di Indonesia.
Keberhasilan tata kelola tersebut tidak lepas dari kolaborasi multi-pihak yang menghubungkan peran warga di tingkat desa, fasilitas teknis di lapangan, serta dukungan pendanaan maupun keahlian dari mitra internasional.
Penilaian Pemerintah Pusat di TPS 3R Balak
Penetapan Banyuwangi sebagai model percontohan dipertegas saat Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan meninjau Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Balak di Kecamatan Songgon. Dalam kunjungannya, Zulkifli menilai sistem yang diterapkan di Banyuwangi termasuk salah satu yang terbaik di Indonesia dan sangat layak dikembangkan ke skala nasional.
Kemenhub Beri Izin Khusus 35 Pesawat Asing Bantu Tangani Karhutla

Kinerja fasilitas pengolahan ini tercermin dari volume operasionalnya. Sejak pertama kali beroperasi, TPS 3R Balak telah menerima dan mengolah lebih dari 14.145 ton sampah. Keberadaan fasilitas ini menjadi tulang punggung pemrosesan sampah terpilah di wilayah Songgon dan sekitarnya agar tidak menumpuk di tempat pembuangan akhir.
Peran Mitra Internasional dari Muncar hingga Songgon
Ekosistem persampahan di Banyuwangi berkembang secara bertahap lewat berbagai tahapan program:
- Akar Inisiatif (Proyek STOP 2018): Transformasi ini berakar dari Proyek STOP yang telah berjalan di Kecamatan Muncar sejak 2018 untuk mengatasi pencemaran pesisir dan membenahi rantai persampahan lokal.
- Fase Pertama dan Kedua: Pemerintah Austria dan Norwegia menyalurkan dukungan untuk pembangunan infrastruktur fisik, termasuk pendirian fasilitas pengolahan sampah dengan kapasitas olah mencapai 80 ton per hari di TPS 3R Balak.
- Fase Ketiga (Mulai 2024): Dukungan diperluas melalui kemitraan dengan Uni Emirat Arab (UAE). Fokus tahap ini menitikberatkan pada penguatan rantai pengelolaan dari hulu ke hilir.
Bantuan dari lembaga internasional tersebut masuk ke Banyuwangi berkat rekam jejak tata kelola persampahan lokal yang dinilai transparan dan berkelanjutan.
Strategi Kemenhut Pantau Gajah di Tengah Kebakaran Way Kambas

Mekanisme Hulu-Hilir dan Jangkauan Layanan
Keunggulan Program Banyuwangi Hijau bertumpu pada integrasi antara kebiasaan warga di tingkat hulu dan kesiapan rantai logistik di hilir. Rangkaian sistem ini mencakup lima pilar operasional:
- Edukasi Warga: Pendampingan masyarakat secara berkala agar memahami pemisahan jenis sampah dari rumah tangga.
- Pemilahan dari Sumber: Pemisahan material organik dan non-organik secara mandiri sebelum diambil oleh petugas.
- Penyediaan Sarana: Fasilitasi wadah penampungan terpilah di lingkungan perumahan warga.
- Pengangkutan Terjadwal: Armada pengangkut mengangkut sampah secara terpisah sesuai jadwal dan kategori limbah.
- Pengolahan di TPS 3R: Pemilahan lanjutan, daur ulang material bernilai ekonomis, dan pengolahan residu organik di fasilitas daur ulang.
Hingga Mei 2026, jangkauan Program Banyuwangi Hijau telah melayani 73 desa di berbagai kecamatan. Total cakupan penerima manfaat mencapai 23.410 rumah tangga atau mencakup sekitar 500.000 jiwa warga Banyuwangi. Melalui pendekatan berbasis komunitas yang dipadukan dengan infrastruktur memadai, model ini membuktikan bahwa pengelolaan sampah mandiri dapat berjalan efektif di tingkat kabupaten.






