PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) tengah membidik peluang baru di pasar investasi syariah tanah air. Langkah strategis ini ditandai dengan ketertarikan perseroan untuk masuk ke instrumen investasi berbasis komoditas melalui rencana pengembangan produk exchange traded fund (ETF) emas.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menyatakan bahwa minat perseroan terhadap produk ETF emas tergolong cukup besar. Kendati demikian, realisasi produk inovatif ini tidak akan dilakukan secara terburu-buru. Saat ini, emiten perbankan syariah tersebut masih sibuk mematangkan berbagai aspek bisnis serta pemenuhan regulasi yang berlaku sebelum produk investasi ini resmi diperkenalkan kepada masyarakat.
Proses persiapan yang matang ini dinilai sangat krusial bagi keberlangsungan produk di masa depan. Anggoro mengungkapkan bahwa pengembangan produk baru di industri perbankan memang membutuhkan waktu dan proses yang relatif lebih panjang jika dibandingkan dengan lembaga keuangan non-bank. Ketatnya pengawasan dan kepatuhan terhadap regulasi sektor perbankan menjadi faktor utama yang membuat persiapan aspek bisnis harus dilakukan secara komprehensif.
Seputar Pertamina Talks Episode 2, Jadwal, Tema, dan Pengisi Acara

Paralel dengan rencana jangka panjang pengembangan ETF emas tersebut, BSI juga sedang bersiap untuk mengembangkan lini bisnis simpanan emas. Untuk bisnis simpanan emas ini, perseroan menegaskan telah mengantongi izin-izin yang diperlukan dari otoritas terkait. Kini, fokus BSI bergeser pada pembangunan ekosistem pasar yang kuat agar emas yang berhasil dihimpun dari masyarakat dapat disalurkan secara produktif kepada pihak-pihak yang membutuhkan, termasuk jaringan toko emas.
Dalam operasionalnya kelak, transaksi emas di BSI akan didukung penuh oleh emas fisik yang nyata. Perseroan menerapkan skema gold to gold, yang menjamin bahwa setiap transaksi yang dilakukan nasabah akan memiliki underlying berupa emas fisik. Saat ini, total emas kelolaan yang ada di bawah naungan BSI telah mencapai kisaran 24 ton. Jumlah akumulasi tersebut mencakup emas yang berasal dari produk gadai syariah maupun produk tabungan emas.
Pemerintah Indonesia Bantah Tudingan Bantu China Hindari Tarif Amerika Serikat

Bagi BSI, ekspansi di sektor emas bukan sekadar upaya untuk memperbesar skala bisnis bullion bank mereka. Strategi ini juga diposisikan sebagai instrumen utama untuk mengakuisisi nasabah-nasabah baru. BSI secara konsisten mengejar pertumbuhan pada produk tabungan emas karena instrumen ini terbukti efektif menarik minat masyarakat luas. Dengan semakin banyaknya masyarakat yang mulai menabung emas, peluang mereka untuk masuk dan menggunakan layanan perbankan syariah lainnya pun akan semakin besar. Produk tabungan emas ini sekaligus menjadi pembeda atau diferensiasi utama BSI saat menawarkan layanan keuangan syariah kepada masyarakat.






