Apakah Indonesia benar-benar memfasilitasi ekspor barang dari China untuk menghindari bea masuk ke Amerika Serikat? Pertanyaan ini muncul ke permukaan setelah rilisnya laporan sepihak dari pihak AS mengenai rantai pasok global. Menanggapi tuduhan tersebut, Pemerintah RI Bantah Tudingan Bantu China Hindari Tarif AS melalui praktik transhipment atau pengiriman barang antarnegara untuk menyamarkan asal-usul produk. Langkah klarifikasi ini diambil demi meluruskan posisi perdagangan luar negeri Indonesia yang sebenarnya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa laporan yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat tersebut hanya didasarkan pada asumsi atau anggapan semata. Indonesia sendiri tidak pernah dilibatkan ataupun diberi tahu mengenai penyusunan laporan yang berjudul 'The Great Transhipment Scam' tersebut. Laporan ini dirilis oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump dan menuduh puluhan negara membantu eksportir China meloloskan produk mereka dari tarif tinggi yang diterapkan oleh AS.
Di dalam laporan tersebut, terdapat total 40 negara yang dinilai masuk ke dalam jaringan transhipment bayangan (shadow transhipment network). Pemerintah AS memperkirakan bahwa praktik penghindaran tarif melalui metode transhipment ini berpotensi menyebabkan kerugian pendapatan bea masuk bagi AS sebesar US$ 40 miliar hingga US$ 303 miliar. Dalam klasifikasinya, Indonesia diasumsikan masuk ke dalam kelompok Tier 2 bersama dengan negara-negara seperti Brasil, Malaysia, Thailand, Turki, dan Vietnam.
Seputar Pertamina Talks Episode 2, Jadwal, Tema, dan Pengisi Acara

Sebagai negara yang dikelompokkan dalam Tier 2, Indonesia dituding bertindak sebagai hub manufaktur yang terintegrasi dengan China untuk mengekspor produk tertentu, seperti plastik dan turunannya, ke pasar Amerika Serikat. Namun, tuduhan ini segera dibantah dengan memaparkan fakta industri nasional yang telah lama mapan. Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa kawasan industri di Batam dan Bekasi telah beroperasi sejak tahun 1990-an. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas industri di wilayah tersebut bukanlah proyek instan yang sengaja dibangun baru-baru ini untuk menyiasati tarif perdagangan global.
Selain itu, pasokan bahan baku industri plastik di dalam negeri terbukti sudah diproduksi secara mandiri oleh produsen domestik, seperti Chandra Asri dan Lotte Chemical. Jalur distribusi produk ini pun tidak menyasar pasar Amerika Serikat sebagai tujuan utama. Sebagian besar produk kemasan plastik (packaging) yang dihasilkan di Indonesia digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik atau diekspor ke kawasan sekitar Asia Tenggara, bukan dikirimkan ke Amerika Serikat.
Batas Saham Gocap Akan Dihapus Menjadi Rp 1, Ini Langkah Antisipasi bagi Investor

Laporan 'The Great Transhipment Scam' ini membagi negara-negara yang dicurigai ke dalam beberapa tingkatan. Tier 1 diisi oleh Kanada, Uni Eropa, India, Israel, Jepang, dan Taiwan yang diidentifikasi sebagai platform ekspor utama menuju Amerika Serikat. Sementara itu, tetangga dekat Indonesia, yaitu Singapura, dimasukkan ke dalam kelompok Tier 3 bersama dengan Kamboja, Laos, Myanmar, dan Filipina. Dengan fakta-fakta industri domestik yang kuat dan mandiri, pemerintah menegaskan posisi Indonesia bersih dari tuduhan manipulasi jalur perdagangan tersebut.






