Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang meningkat sejak Jumat (4/9) malam berdampak langsung pada sektor penerbangan nasional. Hingga Minggu (6/9) siang, sebanyak lima bandara di wilayah Jawa dan Sumatra ditutup sementara akibat sebaran abu vulkanik.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menyampaikan data penutupan tersebut dalam konferensi pers secara daring pada Minggu siang. Berdasarkan catatan BMKG per pukul 10.25 WIB, sebaran material abu vulkanik telah mengganggu ruang udara dan operasional di sejumlah fasilitas penerbangan.
Jadwal dan Daftar Bandara yang Terdampak
Penutupan operasional diberlakukan dengan rentang waktu berbeda di setiap titik guna mengantisipasi risiko keselamatan penerbangan. Lima bandara yang dipastikan berhenti beroperasi sementara meliputi:
Badan Geologi, Dentum di Bandung Efek Gelombang Akustik Anak Krakatau

- Bandara Soekarno-Hatta: ditutup mulai pukul 08.36 WIB hingga 13.30 WIB.
- Bandara Halim Perdanakusuma: ditutup mulai pukul 09.49 WIB hingga 14.00 WIB.
- Bandara Budiarto Curug: dijadwalkan tutup hingga pukul 13.30 WIB.
- Bandara Raden Inten II Lampung: dijadwalkan tutup hingga pukul 14.00 WIB.
- Lapangan Terbang Pondok Cabe: dijadwalkan tutup hingga pukul 14.00 WIB.
Selain kelima bandara tersebut, Bandara Husein Sastranegara di Bandung juga dilaporkan mengalami penutupan akibat terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Kendati demikian, pihak pengelola InJourney belum memberikan konfirmasi resmi terkait laporan penutupan bandara di Bandung tersebut.
Rencana Modifikasi Cuaca Dialihkan
Penutupan Lapangan Terbang Pondok Cabe berdampak pada rencana mitigasi bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya merencanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dari Pondok Cabe untuk membantu meredakan konsentrasi sebaran abu vulkanik.
Sebaran Abu Vulkanik Erupsi Gunung Anak Krakatau Meluas ke Jawa dan Sumatra, Ini Wilayah Terdampak

Teuku Faisal menjelaskan bahwa BMKG telah berkoordinasi dengan Kepala BNPB guna mencari alternatif pangkalan udara untuk operasi tersebut. Opsi pengalihan titik keberangkatan OMC kini mempertimbangkan penggunaan pangkalan di Bandara Halim Perdanakusuma atau Bandara Husein Sastranegara.
Saat ini, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara bersama operator maskapai, pengelola bandara, penyedia layanan navigasi penerbangan, serta BMKG terus memantau pergerakan abu vulkanik secara berkala untuk menentukan penyesuaian jadwal dan pembukaan kembali operasional penerbangan.






