Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat tajam menyusul aksi saling serang retorika dan manuver militer antara Israel dan Turki. Perselisihan terbaru dipicu oleh serangan udara Israel ke sebuah pangkalan udara nonaktif di Suriah utara, yang diklaim Tel Aviv sebagai upaya preventif untuk menggagalkan dugaan rencana penempatan pasukan militer Turki di lokasi tersebut.
Pemerintah Turki dan Suriah secara tegas membantah adanya rencana pengerahan militer ke fasilitas nonaktif tersebut. Tidak ada laporan mengenai korban jiwa dalam insiden itu. Kendati demikian, langkah Israel memicu kritik keras dari Duta Besar Amerika Serikat untuk Turki sekaligus Utusan Khusus untuk Suriah dan Irak, Tom Barrack, yang menyebut operasi tersebut sebagai bentuk eskalasi yang tidak perlu.
Perang Retorika dan Ancaman Hukum
Pascaserangan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan melalui sebuah unggahan video di media sosial bahwa Israel menolak ekspansi kehadiran militer Turki ke arah selatan karena dinilai membahayakan keamanan nasionalnya. Para pejabat Israel juga menuduh Ankara bertindak selayaknya musuh dan mendukung terorisme, sementara Netanyahu melabeli Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebagai diktator antisemit.
Breaking News! AS Bombardir Pulau Larak Iran, Hancurkan Roket Teheran

Di sisi lain, Presiden Erdogan secara terbuka menjuluki Israel sebagai negara teror dan membandingkan kepemimpinan Netanyahu dengan Adolf Hitler. Respons Ankara berlanjut dua hari berselang lewat pengumuman langkah hukum untuk meminta Interpol menangkap Netanyahu. Tuduhan tersebut mencakup dugaan genosida dan penyiksaan terkait tindakan Israel terhadap aktivis pro-Palestina yang dicegat di laut saat menuju Gaza.
Hubungan bilateral kedua negara terus merosot sejak serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang. Agresi militer balasan Israel di Jalur Gaza telah menewaskan sekitar 73.000 orang menurut otoritas kesehatan setempat, mayoritas di antaranya perempuan dan anak-anak.
Perebutan Pengaruh dan Aliansi Regional
Pertarungan pengaruh ini kian meluas menyusul perubahan peta politik di kawasan pascaruntuhnya rezim Bashar al-Assad di Suriah pada akhir 2024. Pemerintahan baru Suriah kini dipimpin oleh Ahmed al-Sharaa, yang memiliki relasi erat dengan Turki namun dicurigai oleh otoritas keamanan Israel.
Rusia Umumkan Rencana Gempur Habis Fasilitas Energi Ukraina

Di kancah regional, friksi kedua negara merambah ke berbagai front. Di Mediterania Timur, Israel memperkuat kemitraan sektor pertahanan dan energi bersama Yunani serta Siprus, dua negara yang memiliki riwayat sengketa teritorial dengan Turki. Di Tanduk Afrika, Israel menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Somaliland pada Desember lalu, sebuah langkah diplomasi yang langsung menuai kecaman dari Ankara.
Sebagai langkah tandingan dalam perimbangan kekuatan kawasan, Turki pada bulan ini meresmikan pakta pertahanan bersama dengan Arab Saudi dan Pakistan. Di tengah dinamika perbatasan ini, sejumlah analis di Israel memperkirakan eskalasi militer dan retorika keras terhadap Turki sengaja dimanfaatkan oleh Netanyahu demi memperkuat citra keamanan dalam negerinya menjelang agenda pemilu Israel pada Oktober mendatang.






