Sedikitnya 70 korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapatkan tindakan medis intensif dari Tim Relawan Kesehatan Universitas Syiah Kuala (USK) Aceh di Rumah Sakit Ruteng, Kabupaten Manggarai. Mayoritas pasien membutuhkan tindakan operasi akibat luka patah tulang setelah tertimpa reruntuhan bangunan.
Ketua Tim Relawan Kesehatan USK untuk penanganan bencana NTT, Teuku Maulana, menyampaikan bahwa tingginya kasus fraktur menjadi salah satu tantangan medis utama di wilayah terdampak, khususnya di Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Manggarai Timur. Jumlah korban yang ditangani diperkirakan bertambah mengingat proses evakuasi dan pendataan di lapangan masih terus bergulir.
Api Masih Muncul, Kotim Kalteng Perpanjang Status Darurat Karhutla

Salah satu tindakan bedah yang dilakukan tim medis di RSUD Ruteng yakni penanganan terhadap pasien remaja berusia 13 tahun bernama Fransiskus A. Duhur. Pasien tersebut mengalami cedera patah tulang paha kiri tertutup dan patah tulang paha kanan terbuka akibat guncangan gempa bermagnitudo 7,7 yang melanda kawasan NTT.
Tim relawan USK mengerahkan tujuh personel utama yang terdiri dari dokter spesialis ortopedi, dokter bedah umum, tenaga perawat, dan staf pengajar. Rombongan ini diperkuat oleh Dosen Senior Fakultas Kedokteran USK Teuku Maulana, staf pengajar FK USK T. Nanta Aulia, serta Guru Besar Fakultas Keperawatan USK Marlina, dengan dukungan Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) USK. Sebanyak tujuh relawan medis juga diterjunkan ke RSUD Komodo di Labuan Bajo untuk memperkuat layanan rujukan.
KPK Tangkap Mantan Bupati Kebumen dalam OTT Kasus HGB BPN Bogor

Selain melayani operasi dan perawatan di rumah sakit, tim kesehatan USK menyisir posko pengungsian warga di kawasan Waso, Kecamatan Lambaleda Utara, Kabupaten Manggarai Timur. Pelayanan medis lapangan ini diiringi penyaluran bantuan logistik darurat, mencakup makanan siap saji produksi USK, bahan makanan tambahan, hingga kebutuhan bayi.






