Aparat Kepolisian Resor Manggarai Timur menembus medan berat demi mengantarkan bantuan logistik bagi warga terdampak gempa di Kampung Podol, Desa Ruan, Kecamatan Kota Komba, Nusa Tenggara Timur (NTT). Penyaluran bantuan yang dipimpin langsung oleh Kapolres Manggarai Timur AKBP Haryanto tersebut berlangsung pada Minggu (30/8) sekitar pukul 15.45 WITA.
Dalam aksi kemanusiaan tersebut, sebanyak 10 personel kepolisian dikerahkan dengan mengendarai kendaraan roda dua dan roda empat untuk melintasi jalur darat yang curam dan sulit diakses. Bantuan ini ditujukan bagi 54 kepala keluarga atau total 156 jiwa warga Kampung Podol yang terdampak gempa bumi.
Adapun logistik yang diserahkan meliputi 100 kilogram beras, 15 dus mi instan, 10 dus air minum, lima dus biskuit, dua dus susu balita, dua dus popok, 10 selimut bayi, 10 tikar bayi, dan 10 lembar kain sarung.
Polisi, Kebakaran Posko GRIB Jaya di Jakbar Diduga Akibat Korsleting

AKBP Haryanto menegaskan bahwa kehadiran personel kepolisian di lokasi bencana bertujuan memastikan warga tidak merasa sendirian menghadapi masa sulit, terlepas dari rintangan medan yang harus dihadapi di lapangan.
Dukungan Logistik Baznas dan Relawan di NTT
Selain kepolisian, penanganan dampak gempa di wilayah Nusa Tenggara Timur juga melibatkan berbagai lembaga kemanusiaan. Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI telah mendirikan 16 pos layanan di sejumlah titik di NTT untuk mempercepat respons tanggap darurat.
Gunung Sinabung Erupsi, Kolom Abu Membumbung Setinggi 3.500 Meter

Baznas RI mendistribusikan Paket Logistik Keluarga bagi para penyintas di Pulau Palue serta menyalurkan 500 Paket Logistik Keluarga di Posko Golo Conggo, Manggarai, guna menopang pasokan kebutuhan pangan pokok warga terdampak.
Di samping pasokan bahan mentah, relawan kemanusiaan menyiapkan sekitar 250 porsi makanan siap santap setiap hari untuk dikirim langsung ke perkampungan dan posko-posko mandiri. Ketua Relawan JHL Foundation Eduardus Noe Ndopo Mbete menjelaskan bahwa skema distribusi bantuan dirancang sesuai kebutuhan nyata para penyintas di lapangan, khususnya warga yang saat ini masih bertahan di pengungsian.






