Gelombang unjuk rasa di India kini tidak lagi hanya digerakkan oleh pemuda Generasi Z. Anak-anak usia sekolah dasar yang tergolong Generasi Alpha mulai turun ke jalan untuk menuntut perbaikan fasilitas fisik dan mutu pendidikan dasar di bawah pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi.
Sebelumnya, aksi protes anak muda terpusat di kawasan Jantar Mantar, New Delhi, sejak awal Juni. Ribuan anggota Gen Z yang dipimpin kelompok satir Cockroach Janata Party (CJP) menyuarakan kritik terhadap isu kebocoran ujian nasional serta tingginya angka pengangguran. Namun, fokus pergerakan tersebut meluas ketika CJP meluncurkan inisiatif "School Thik Karo" (Perbaiki Sekolah) pada 15 Agustus, yang kemudian disusul oleh aksi langsung murid-murid sekolah dasar di berbagai daerah.
Salah satu aksi mencolok berlangsung pada 22 Agustus di Desa Samuhi Bhatpurwa, Negara Bagian Uttar Pradesh. Sebanyak 122 siswa sekolah dasar negeri, beberapa di antaranya masih berusia enam tahun, melakukan aksi mogok masuk kelas. Mereka menuntut realisasi janji pemerintah terkait pembangunan gedung sekolah baru. Sebagian struktur sekolah tersebut dilaporkan masih dipenuhi puing sejak sebuah dinding roboh dan mencederai seorang murid perempuan pada 2023. Aksi mogok itu baru mereda menjelang petang setelah Pejabat Pendidikan Wilayah, Deepak Awasthi, menemui siswa dan memastikan komitmen pembangunan gedung.
Penampakan Asap Karhutla Indonesia Menyelimuti Singapura, Warga Siaga

Meluas ke Berbagai Wilayah
Aksi serupa tercatat merebak sejak akhir Juli di setidaknya 10 negara bagian, mencakup Maharashtra, Bihar, Rajasthan, Jharkhand, hingga Madhya Pradesh. Tuntutan yang disuarakan berkisar pada rusaknya sarana sekolah, keterbatasan tenaga pendidik, hingga mutu makanan program sekolah.
Di Bihar, sekitar 50 siswa berjalan kaki sejauh 4 kilometer pada 28 Juli demi menemui pejabat setempat untuk memprotes buruknya kualitas makanan yang mereka peroleh di sekolah.
Bos LPS Ungkap Tujuan Digelarnya Lampung Financial Festival 2026

Kontras Data dan Realitas Lapangan
India mengelola salah satu sistem pendidikan dasar terbesar di dunia dengan total sekitar 247 juta murid di 1,5 juta institusi pendidikan. Temuan audit pemerintah periode 2025–2026 mencatat adanya kemajuan umum pada sektor ini, termasuk penurunan angka putus sekolah serta rasio rata-rata satu guru melayani 24 siswa.
Meski demikian, data resmi yang sama tetap menunjukkan kesenjangan distribusi yang tajam di tingkat akar rumput. Lebih dari 100.000 sekolah di India saat ini hanya memiliki satu orang guru yang mengajar seluruh tingkatan kelas, sementara ribuan sekolah lainnya tercatat tidak memiliki murid sama sekali.






