Pemantauan kesehatan jangka panjang terhadap ratusan ribu tenaga medis di Amerika Serikat mengungkap temuan penting terkait kebiasaan minum sehari-hari. Berdasarkan data pemantauan selama lebih dari tiga dekade, konsumsi minuman berpemanis secara rutin berkaitan erat dengan lonjakan risiko kanker lambung.
Penelitian berskala besar tersebut melibatkan 112.284 partisipan yang tergabung dalam Nurses’ Health Study dan Health Professionals Follow-up Study. Selama masa pengamatan lebih dari 30 tahun tersebut, para peneliti mendokumentasikan sebanyak 278 kasus kanker lambung yang muncul di antara kelompok partisipan.
Peningkatan Risiko Hingga 2,45 Kali Lipat
Analisis data menunjukkan bahwa individu yang meminum lebih dari satu porsi minuman manis atau sekitar 8 ons (240 mililiter) per hari menghadapi risiko kanker lambung 2,45 kali lebih tinggi. Risiko ini dihitung melalui perbandingan langsung dengan kelompok yang mengonsumsi kurang dari satu porsi minuman manis per bulan.
Ramalan Shio Naga, Ular, Kuda, dan Kambing Kamis, 10 September 2026

Studi tersebut juga menyoroti peran konsumsi fruktosa tinggi terhadap naiknya kejadian kanker pada organ pencernaan tersebut. Sebagai gambaran kandungan asupannya, satu sajian minuman berpemanis berukuran 250 mililiter rata-rata mengandung sekitar 22,8 gram gula.
Kaitan ini menambah daftar panjang dampak buruk asupan gula berlebih pada tubuh, yang selama ini telah terbukti memicu kondisi kronis seperti obesitas serta diabetes tipe 2. Di samping itu, penelitian terpisah dalam jurnal JAMA Network Open sebelumnya turut menemukan hubungan antara konsumsi minuman berpemanis gula dan peningkatan risiko kanker hati jenis karsinoma hepatoseluler (HCC) serta kolangiokarsinoma intrahepatik (ICC).
Manfaat Puasa Senin Kamis Lengkap dengan Bacaan, Keutamaan dan Tata Cara

Korelasi Observasional dan Faktor Risiko Lain
Kendati data menunjukkan angka peningkatan yang nyata, ahli gastroenterologi dan epidemiologi yang terlibat dalam studi ini, Andrew T. Chan, menegaskan batasan metodologis dari riset tersebut. Mengingat sifat penelitian yang berbasis observasional, temuan ini baru membuktikan adanya korelasi dan belum menunjukkan hubungan sebab-akibat yang mutlak secara langsung.
Di luar pola konsumsi gula, faktor biologis tetap memegang peranan krusial dalam perkembangan penyakit lambung, salah satunya keberadaan bakteri Helicobacter pylori. Untuk mengantisipasi risiko terkait infeksi tersebut, pemeriksaan non-invasif seperti Urea Breath Test (UBT) dinilai menjadi metode yang akurat dalam mendeteksi keberadaan bakteri pemicu kanker lambung sejak dini.






