Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan signifikan pada penutupan perdagangan sesi I, Senin (14/9/2026). Indeks komposit melemah 111,50 poin atau 1,70% ke level 6.429,88, terbebani oleh koreksi tajam saham-saham di sektor energi dan pertambangan.
Pergerakan pasar didominasi oleh tren pelemahan. Sebanyak 542 saham terkoreksi, 153 saham menguat, dan 268 saham lainnya bergerak stagnan. Total transaksi di seluruh pasar tercatat mencapai 173,23 juta lot dengan nilai Rp8,01 triliun melalui frekuensi sekitar 1,19 juta kali transaksi.
Aktivitas di pasar reguler membukukan volume 170,64 juta lot dengan nilai transaksi Rp7,83 triliun. Sementara itu, pasar negosiasi mencatatkan transaksi sebesar 2,59 juta lot senilai Rp181,37 miliar dari 163 transaksi, dan pasar tunai mencatat 41 lot bernilai sekitar Rp3,15 juta lewat lima kali transaksi.
Dunia Masuk Era 'Higher for Longer', Bos BI Waspadai Arus Modal Keluar

Sektor energi menjadi pemberat utama indeks dengan anjlok 4,87%, disusul sektor utilitas yang turun 4,09% dan sektor kesehatan yang terkoreksi 2,39%. Pelemahan IHSG dipicu oleh tekanan jual pada sejumlah saham tambang berkapitalisasi besar. PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi penekan utama dengan kontribusi bobot penurunan mencapai -23,84 poin indeks, disusul PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) sebesar -10,64 poin.
Beban indeks makin bertambah akibat penurunan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang menyumbang -5,43 poin serta PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebesar -4,69 poin. Dari sektor perbankan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) terkoreksi 1,61% dan turut menyumbang penurunan sebesar -6,08 poin terhadap IHSG.
Harga Minyak Dunia Tembus US$107 usai Arab Saudi Diserang Houthi

Sentimen pasar dibayangi oleh eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan ketidakpastian suku bunga global. Serangan Houthi terhadap Arab Saudi dilaporkan merusak jaringan pipa minyak alternatif di luar Selat Hormuz. Kondisi ini memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global hingga 4% dan mendorong harga minyak mentah melampaui level US$100 per barel pada pekan sebelumnya.
Di saat bersamaan, data inflasi Amerika Serikat (AS) periode Agustus menunjukkan kenaikan indeks harga konsumen (CPI) sebesar 0,4% secara bulanan, naik dari 0,1% pada Juli. Inflasi inti AS juga tercatat naik 0,3% secara bulanan, melampaui proyeksi pasar sebesar 0,2%. Mengacu data CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve sebesar 25 basis poin ke rentang 3,75%-4,00% pada pertemuan 15-16 September 2026 kini telah mencapai 87,3%.






