Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menuntaskan persoalan sampah di Ibu Kota. Keterlibatan bersama antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media dinilai menjadi faktor utama dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Penegasan tersebut disampaikan Pramono saat menjadi pembicara utama dalam Local Hero Indonesia Forum 2026 di Grha Ali Sadikin, Balai Kota Jakarta, Senin (31/8). Acara yang digagas oleh Indonesia Water Institute ini mengusung tema "From Campaign to Collaboration: Strengthening Multi-Stakeholder Partnership for Sustainable Waste Management".
Dalam forum tersebut, Pramono menyoroti besarnya volume timbulan sampah di Jakarta yang kini mencapai lebih dari 9.000 ton per hari, atau setara dengan sekitar 3,17 juta ton dalam setahun. Untuk menangani beban tersebut, Pemprov DKI Jakarta terus mendorong perubahan paradigma pengelolaan sampah secara menyeluruh.
Guru SD Asal Depok Ditemukan Tewas di Gunung Putri Bogor, Polisi Buru Terduga Pelaku

Menurut Pramono, pola pengelolaan sampah di Jakarta telah bergeser dari pendekatan lama kumpul-angkut-buang menjadi pilah-angkut-olah. Perubahan prinsip kerja ini membutuhkan komitmen dan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat agar implementasinya di lapangan berjalan optimal.
Gerakan pilah sampah yang dicanangkan sejak 10 Mei 2026 dilaporkan mulai memperlihatkan dampak positif. Proporsi rumah tangga yang memilah sampah secara mandiri meningkat dari 5,31 persen menjadi 23,14 persen. Peningkatan ini turut mendongkrak volume sampah organik yang terkelola melalui bank sampah, yakni dari 1.046 ton menjadi 1.432 ton. Pada saat yang sama, pasokan sampah harian yang dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang tercatat berkurang sekitar 500 ton per hari.
Poltracking, Mayoritas Masyarakat Percaya Pemerintahan Prabowo-Gibran

Dari sisi infrastruktur pengolahan, fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan saat ini telah mampu mengolah sekitar 800 hingga 1.000 ton sampah per hari. Pramono menilai perbaikan tata kelola sampah ini akan memicu dampak berganda (multiplier effect), termasuk menekan polusi udara dan mendukung pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Jakarta. Ia juga menginstruksikan agar isu pengelolaan sampah dijadikan agenda pembahasan rutin di lingkungan Balai Kota Jakarta.
Pendiri sekaligus Pimpinan Indonesia Water Institute, Firdaus Ali, menyambut baik komitmen pemerintah daerah tersebut. Firdaus menyatakan bahwa perubahan perilaku mendasar harus dimulai dari tingkat rumah tangga dan terus diperkuat lewat kemitraan lintas sektor yang solid.






