Sungai Danube, yang dikenal sebagai salah satu jalur air paling penting di Eropa, saat ini tengah menghadapi fenomena penyusutan debit air yang sangat drastis akibat gelombang panas dan kekeringan ekstrem yang berkepanjangan. Krisis air yang melanda kawasan ini tidak hanya memangkas produksi listrik dan mengganggu pelayaran Eropa, tetapi juga membuka kembali lembaran masa lalu yang selama ini tersembunyi di dasar sungai. Mulai dari bangkai kapal perang era Perang Dunia II hingga sisa-sisa hewan purba, dasar sungai yang mengering kini memperlihatkan berbagai hal yang telah lama tenggelam.
Di dekat wilayah Prahovo, Serbia, penurunan permukaan air yang signifikan pada tanggal 30 Juli 2026 memunculkan kembali bangkai kapal perang Jerman dari era Perang Dunia II ke permukaan. Kapal-kapal tersebut diketahui ditenggelamkan oleh armada Nazi pada tahun 1944. Kemunculan kembali armada yang karam ini menjadi salah satu dampak paling nyata dari krisis kekeringan yang melanda kawasan Danube.
Fenomena mengejutkan lainnya juga terjadi di bagian sungai yang melintasi wilayah Bulgaria. Di kawasan tersebut, surutnya air Sungai Danube menyingkap sisa-sisa mammoth purba yang diyakini keberadaannya oleh para arkeolog. Penemuan ini menambah daftar panjang fenomena yang muncul akibat kekeringan ekstrem di kawasan tersebut.
Di balik kemunculan sisa-sisa sejarah itu, kekeringan membawa konsekuensi yang sangat serius bagi pasokan listrik di berbagai negara Eropa. PLTA Djerdap 1, sebuah pembangkit listrik tenaga air yang dioperasikan secara bersama oleh Serbia dan Rumania, mengalami penurunan produktivitas yang sangat tajam. Pembangkit yang memiliki kapasitas harian mencapai 15 gigawatt-jam (GWh) tersebut kini dilaporkan hanya menghasilkan sekitar 20 persen dari kapasitas normalnya.
Krisis Minyak Dunia di Depan Mata, Ini Bukti-Bukti Barunya

Direktur Produksi Djerdap 1, Davor Maljokovic, turut memberikan peringatan mengenai kondisi kritis ini. Ia menyatakan bahwa aliran Sungai Danube berpotensi turun hingga di bawah 1.400 meter kubik per detik pada bulan Agustus. Penurunan debit air ini tidak hanya memukul operasional PLTA Djerdap 1, tetapi juga berdampak langsung pada PLTA Djerdap 2 yang turut mengalami penurunan produksi.
Untuk mengatasi defisit energi yang terjadi, Serbia sangat mengandalkan pembangkit listrik berpompa Bajina Basta guna memenuhi kebutuhan listrik, terutama pada saat beban puncak. Secara umum, sekitar 60 persen pasokan listrik Serbia berasal dari batu bara lignit, 30 persen dari tenaga air, dan sisanya didapatkan dari sumber lain. Kompleks PLTU Nikola Tesla saat ini masih menyuplai sekitar 50 persen dari total kebutuhan listrik nasional. Namun, pembangkit berbahan bakar batu bara lainnya, yakni PLTU Kostolac, terpaksa dikurangi produksinya karena sistem pendinginnya terganggu oleh krisis air.
Selain sektor energi, surutnya Sungai Danube juga sangat mengganggu kelancaran jalur pelayaran di Eropa. Di kawasan PLTA Djerdap 1, jalur pelayaran menjadi semakin menyempit akibat munculnya gundukan pasir, beting kerikil, serta pulau-pulau kecil yang sebelumnya terendam oleh air. Kondisi ini secara langsung menghambat pergerakan kapal-kapal yang biasa melintasi rute tersebut.
Diam-Diam Toyota Mau Bikin Mobil Listrik BEV Harga Terjangkau, Kapan?

Menanggapi situasi yang kian mengkhawatirkan, Pemerintah Serbia pada hari Kamis, 30 Juli, telah menetapkan status siaga penuh. Langkah ini diambil untuk menghadapi gelombang panas yang diperkirakan akan berlangsung selama 10 hari. Beberapa langkah darurat yang segera diberlakukan meliputi distribusi air minum kepada warga, pembatasan aktivitas di luar ruangan, serta larangan ketat terkait penggunaan air untuk keperluan penyiraman.
Dampak kekeringan ekstrem ini juga dirasakan secara nyata oleh negara-negara lain di sepanjang aliran Sungai Danube. Di Hongaria, pihak berwenang memangkas 50 persen produksi reaktor 2 di PLTN Paks karena terjadinya kekurangan air. Sementara itu, Rumania mengambil keputusan untuk menghentikan operasi dua reaktor di PLTN Cernavoda. Rangkaian peristiwa ini menunjukkan dengan jelas bagaimana penyusutan air sungai dapat memicu gangguan berskala besar yang memengaruhi kehidupan di berbagai negara Eropa.






