Keterbatasan ekonomi akibat pandemi Covid-19 dan pemotongan upah mengajar mendorong Zulhaida Sitanggang memutar haluan hidup. Mantan guru ini memutuskan berhenti mengajar untuk merintis usaha dari rumah hingga sukses mengembangkan jenama kerajinan tangan Aida Craft dengan omzet bulanan yang sempat menyentuh angka Rp5.000.000.
Langkah Zulhaida diawali dengan sejumlah tantangan. Usaha penjualan tanaman secara daring yang sempat ia rintis harus terhenti sebelum berkembang. Peluang baru muncul ketika ia memanfaatkan tumpukan piring serta gelas retak yang dihias menggunakan lilitan kain bekas. Dua produk gelas hias perdananya laku terjual seharga Rp100.000 melalui penjualan daring, dengan sebagian hasil disalurkan untuk kegiatan amal.
Memanfaatkan Kulit Jagung dan Limbah Plastik
Eksplorasi bahan berlanjut saat Zulhaida mempelajari teknik pembuatan bunga dari kulit jagung sisa tempat sampah pasar tradisional secara otodidak melalui video tutorial. Kualitas karyanya meningkat setelah mendapat bimbingan dari seorang perajin senior mengenai teknik pengolahan bahan agar tidak berjamur dan tahan lama.
Ketekunan tersebut membawa Zulhaida bergabung ke dalam Asosiasi Eksportir Handicraft Indonesia, mengikuti pembinaan UMKM selama tiga bulan, hingga mengantongi sertifikasi pelatih kerajinan tangan dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Pemprov Jateng Raih Penghargaan Layanan Investasi Terbaik di ALI 2026

Perkembangan usaha Aida Craft kian terarah saat Zulhaida resmi bergabung menjadi nasabah pembiayaan PNM Mekaar pada 2024 setelah diajak tetangganya. Pinjaman modal awal digunakan untuk melengkapi alat produksi dasar seperti pot dan lem. Saat ini, usaha tersebut telah mempekerjakan dua orang karyawan.
Selain modal finansial, Zulhaida mengikuti sejumlah program pemberdayaan dari PT Permodalan Nasional Madani (Persero) yang dipimpin oleh Direktur Utama Kindaris. Fasilitas tersebut mencakup pendampingan Mba Maya, program Klasterisasi penguatan jaringan usaha, serta pelatihan kewirausahaan Mekaarpreneur.
Berbagi Keterampilan dan Menggerakkan Komunitas
Keahlian Zulhaida kini dimanfaatkan untuk membina pelaku usaha lainnya. Pemimpin Cabang PNM Medan, Muhammad Wazir, mengonfirmasi keaktifan Zulhaida sebagai pemateri program Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU) PNM di berbagai wilayah, mulai dari kelurahan sekitar Johor hingga Berastagi dan Binjai.
Bahlil soal Antrean SPBU di Sulsel, Ada Pihak dengan Maksud Lain

Kiprahnya terus meluas seiring diversifikasi bahan baku ke limbah plastik untuk menyiasati ketiadaan kulit jagung di kawasan pesisir. Zulhaida tercatat melatih 175 ibu-ibu di Kota Medan bekerja sama dengan Ikatan Pemulung Indonesia, serta menerima undangan Bank Indonesia untuk mempelajari pengolahan limbah secara langsung di Bali.
Saat ini, Zulhaida tengah merancang program kursus kerajinan di kediamannya yang terbuka untuk masyarakat luas, termasuk memberi kesempatan belajar bagi warga yang memiliki keterbatasan finansial.






