Permasalahan ketidakakuratan penentuan desil kesejahteraan sosial kembali berdampak langsung pada warga yang membutuhkan. Di Yogyakarta, seorang lansia bernama Suwarno (70) harus kehilangan akses bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) setelah status ekonominya dikategorikan masuk ke dalam Desil 10.
Kategori Desil 10, yang menempatkan seseorang pada kelompok rumah tangga paling mampu, kontras dengan kondisi kehidupan riil yang dialami Suwarno. Pria yang tinggal di kawasan Jogoyudan, Gowongan, Kemantren Jetis, Kota Yogyakarta ini merupakan pensiunan pustakawan universitas sejak 2015. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia hanya mengandalkan pemasukan uang pensiun sebesar Rp900.000 per bulan.
Realitas Kehidupan di Bantaran Sungai Code
Keseharian Suwarno dijalani seorang diri di rumah peninggalan keluarga. Ia menjadi generasi ketiga yang menempati rumah warisan di dalam gang sempit tidak jauh dari aliran Sungai Code. Istrinya telah meninggal dunia pada 2010, disusul kepergian sang ibu pada 2019, sementara kedua anaknya telah berkeluarga dan hidup mandiri.
Polisi Ungkap Kasus 5,2 Kg Sabu di Jakbar, 2 Pelaku Ditangkap

Suwarno juga tercatat tidak memiliki aset kendaraan pribadi berupa sepeda motor maupun mobil. Semasa masih aktif bekerja di universitas, mobilitas pulang-pergi kerjanya sepenuhnya bertumpu pada fasilitas bus kampus.
Untuk menopang kebutuhan utilitas rumah tangga, Suwarno mendapatkan keringanan berupa diskon tarif listrik dan tagihan air PDAM yang hanya dibebankan biaya abonemen.
Nonton Mushoku Tensei S3 Eps 12 Sub Indo, Jadwal Tayang dan Kelanjutan Cerita

Terputusnya Bantuan PKH
Hilangnya hak bansos tersebut terungkap ketika Suwarno mendatangi kantor kelurahan setempat sekitar dua pekan lalu. Saat menanyakan alasan bantuan sosialnya tidak lagi cair, pihak kelurahan mengonfirmasi bahwa dirinya telah dimasukkan ke dalam basis data Desil 10.
Sebelum penetapan desil tersebut mencoret namanya dari daftar penerima manfaat, Suwarno rutin menerima dana bantuan PKH senilai Rp600.000 per tahap setiap tiga bulan sekali, atau setara dengan Rp200.000 per bulan. Terputusnya bantuan ini menambah panjang daftar permasalahan akurasi data desil bansos bagi warga rentan di wilayah Yogyakarta.






