Pembangunan infrastruktur digital di Indonesia masih dihadapkan pada tantangan kesenjangan konektivitas antardaerah, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Berdasarkan hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025, tingkat penetrasi internet secara nasional telah mencapai angka 80,66 persen. Walaupun demikian, cakupan di kawasan Indonesia Timur, seperti Maluku dan Papua, tercatat baru berada di kisaran 69,26 persen. Kondisi geografis kepulauan menjadi faktor utama yang mendorong perlunya percepatan pemerataan akses internet ke seluruh pelosok tanah air.
Dalam mengatasi kendala jangkauan fisik di daerah terpencil, teknologi satelit diposisikan sebagai pilar krusial bagi konektivitas nasional. Telkomsat menyatakan bahwa teknologi satelit memainkan peranan strategis sebagai tulang punggung konektivitas di wilayah-wilayah pelosok. Penggunaan teknologi ini memungkinkan penyediaan jaringan internet yang andal bagi daerah terisolasi tanpa harus bergantung pada pembangunan jaringan fisik yang rumit dan membutuhkan waktu pengerjaan yang lama. Dengan demikian, layanan komunikasi data dapat dihadirkan secara efektif untuk menunjang kebutuhan masyarakat di kawasan 3T.
Komdigi Serahkan 15 Ton Bantuan Logistik dan 20 Perangkat Starlink untuk Dukung Penanganan Gempa NTT

Penguatan infrastruktur satelit nasional semakin nyata melalui peresmian Satelit Nusantara Lima oleh PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) di Jakarta Selatan pada Senin, 12 Mei. Satelit ini mengusung teknologi Very High Throughput Satellite (VHTS) berbasis platform Boeing 702MP dengan kapasitas total melampaui 160 Gbps. Satelit Nusantara Lima dilengkapi 101 spot beam Ka-band yang dirancang untuk menjangkau seluruh wilayah Indonesia secara efektif. Dari total kapasitas tersebut, PSN mengalokasikan masing-masing sebesar 20 Gbps untuk Filipina dan Malaysia. Operasional satelit ini didukung oleh tujuh stasiun bumi yang dibangun di Aceh, Bengkulu, Banjarmasin, Cikarang, Gresik, Kupang, dan Tarakan. Kehadiran satelit ini mengantarkan total kapasitas satelit Indonesia menembus lebih dari 400 Gbps, sekaligus menempatkan Indonesia sebagai pemilik kapasitas satelit terbesar di kawasan Asia Pasifik.
Di sisi lain, kebutuhan pendanaan pembangunan infrastruktur digital di wilayah 3T menuntut skema pembiayaan yang berkelanjutan di tengah pesatnya nilai ekonomi digital nasional. Nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai Rp1.600 triliun pada tahun 2025. Pada saat yang sama, sekitar 70 persen dari total trafik internet nasional tercatat berasal dari platform digital global. Direktur Utama Bakti Komdigi Fadhilah Mathar menegaskan bahwa kontribusi yang adil dari platform digital global sangat diperlukan untuk mendukung pembangunan di wilayah 3T. Kebijakan ini juga memperoleh dukungan dari Wakil Ketua Komisi I DPR RI Anton Sukartono Suratto yang memandang pentingnya kontribusi platform global di tengah tantangan pendanaan pemerataan infrastruktur digital.
Komdigi Desak WhatsApp Jelaskan Penyebab Akun Terblokir, Senin Harus Dijawab

Menindaklanjuti kebutuhan tersebut, pemerintah melalui Komdigi mulai menyiapkan regulasi yang mewajibkan platform digital global untuk berkontribusi terhadap pembangunan infrastruktur digital di Indonesia, khususnya di daerah 3T. Komdigi memastikan bahwa penerapan aturan ini akan dilaksanakan secara bertahap. Dalam penyusunannya, Komdigi menegaskan komitmen untuk menjaga kepastian berusaha, menerapkan prinsip non-diskriminatif, serta menyediakan masa transisi bagi para pelaku industri. Perpaduan antara perluasan kapasitas satelit dan penataan regulasi pembiayaan ini diharapkan mampu mewujudkan konektivitas digital yang merata di seluruh Indonesia.






