Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) menyambut positif peluncuran Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto. Asosiasi menilai langkah ini dapat menjadi tonggak penting perubahan lanskap energi bersih di Tanah Air.
Ketua Umum METI Norman Ginting menegaskan bahwa proyek berskala masif tersebut tidak boleh dipandang sebatas penambahan kapasitas daya listrik. Program ini perlu diarahkan sebagai momentum percepatan transformasi sistem energi nasional secara menyeluruh.
"Program ini harus menghasilkan kapasitas listrik bersih, memperkuat industri nasional, membuka lapangan kerja, mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujar Norman dalam pernyataan resminya pada Rabu (26/8).
Ramalan Shio Kuda dan Kambing Kamis, 27 Agustus 2026, Dinamika Karier hingga Keuangan

Pemerintah menargetkan pembangunan PLTS 100 GWp tersebut rampung dalam kurun waktu tiga tahun. Pada tahap awal, realisasi pembangunan diproyeksikan mencapai 17 GWp.
Kesiapan Ekosistem dan Regulasi
Agar target ambisius tersebut berjalan efektif dan memberikan dampak ekonomi yang nyata, METI menggarisbawahi pentingnya kesiapan berbagai faktor pendukung. Pengembangan proyek ini memerlukan peta jalan yang terukur, kepastian regulasi, serta kesiapan jaringan transmisi dan distribusi listrik nasional.
Selain itu, ketersediaan sistem penyimpanan energi (energy storage system) dan skema pembiayaan yang berkelanjutan menjadi krusial. Norman juga menyoroti keharusan memperkuat industri manufaktur panel surya dan rantai pasok baterai di dalam negeri guna memaksimalkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
Sekolah Beralih Daring Gegara Kabut Asap, Bagaimana Nasib MBG?

Manfaat Nyata di Wilayah Pesisir
Sebagai gambaran integrasi energi surya bagi perekonomian lokal, METI mencontohkan operasional PLTS di Pulau Sembur, Batam. Pembangkit berkapasitas 1 MWp yang dilengkapi sistem penyimpanan energi sebesar 1 MWh tersebut kini menyuplai listrik bagi warga sekaligus menunjang aktivitas produktif nelayan setempat melalui fasilitas pembuat es (ice maker) dan gudang pendingin (cold storage).
Di lokasi tersebut, pengoperasian PLTS juga dipadukan dengan uji coba perahu nelayan bertenaga baterai listrik. Pemanfaatan perahu listrik ini berpotensi memangkas konsumsi serta biaya bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini membebani pengeluaran nelayan, sembari mereduksi emisi, tingkat kebisingan, dan ketergantungan logistik BBM ke pulau terpencil.






