Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa persoalan rantai distribusi menjadi pemicu utama lonjakan harga daging sapi di sejumlah daerah hingga melampaui ketentuan batas atas yang ditetapkan pemerintah. Menurutnya, stok komoditas tersebut di tingkat nasional sebenarnya dalam kondisi mencukupi, tetapi arus penyalurannya antardaerah belum berjalan merata.
Ketimpangan distribusi tersebut membuat harga di tingkat konsumen melambung di atas Harga Acuan Penjualan (HAP). Berdasarkan Peraturan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Nomor 12 Tahun 2024, HAP daging sapi segar ditetapkan sebesar Rp130.000 per kilogram untuk bagian paha depan dan Rp140.000 per kilogram untuk paha belakang. Saat melakukan peninjauan lapangan di Banyuwangi dan Sukoharjo, Budi mendapati komoditas daging sapi dipatok pada angka Rp140.000 per kilogram.
Disparitas Harga Daging Sapi di Daerah
Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan, harga rata-rata daging sapi paha belakang secara nasional selama periode 31 Juli hingga 31 Agustus tercatat menyentuh Rp143.343 per kilogram. Angka ini telah melampaui patokan acuan Bapanas.
Bulog dan Bapanas Percepat Penyaluran 181 Ribu Ton Beras Bantuan Pangan di Jawa Barat

Kenaikan harga yang jauh lebih tinggi terjadi di sejumlah wilayah luar Pulau Jawa. Di provinsi-provinsi kawasan Kalimantan, harga daging sapi paha belakang berkisar antara Rp154.000 hingga Rp168.000 per kilogram. Lonjakan harga juga tercatat di Aceh sebesar Rp160.114 per kilogram dan DI Yogyakarta mencapai Rp155.833 per kilogram.
Disparitas harga paling tajam terpantau di wilayah timur Indonesia. Di Papua Pegunungan, harga daging sapi mencapai Rp181.250 per kilogram, sementara di Papua Tengah menembus angka Rp200.000 per kilogram.
Dorong Percepatan Realisasi Impor
Untuk meredam lonjakan tersebut, Kementerian Perdagangan mengintensifkan koordinasi bersama para pemangku kepentingan agar pasokan daging segar maupun beku dapat segera digelontorkan secara merata, khususnya ke wilayah-wilayah yang mengalami lonjakan harga melebihi acuan.
Harga Minyak Dunia Tembus US$91,05 usai Perang AS-Iran Meledak Lagi

Langkah intervensi ini krusial mengingat kebutuhan konsumsi daging sapi domestik masih mengandalkan pasokan dari luar negeri. Namun, catatan Kemendag menunjukkan angka realisasi impor daging sapi beku saat ini baru menyentuh 43 persen.
Merespons rendahnya realisasi tersebut, Mendag menyatakan telah memanggil seluruh importir daging sapi agar segera mengeksekusi kuota impor yang dimiliki demi menjaga ketersediaan stok dan menstabilkan harga di pasar.






