Indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia terus menunjukkan peningkatan yang positif. Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks literasi keuangan nasional kini telah menyentuh angka 69,57 persen. Angka tersebut mencatatkan kenaikan jika dibandingkan dengan perolehan pada tahun 2025 yang berada di level 66,64 persen. Seiring dengan semakin terbukanya akses masyarakat terhadap berbagai produk dan layanan jasa keuangan, pemahaman mendalam mengenai pengelolaan keuangan menjadi hal yang krusial agar masyarakat terhindar dari risiko finansial. Untuk itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berupaya memperluas jangkauan edukasi ke berbagai wilayah, termasuk ke Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Berikut adalah beberapa pertanyaan umum yang sering diajukan terkait dengan perkembangan literasi keuangan dan program edukasi yang menyasar pelajar di wilayah Rote Ndao.
Tanya: Bagaimana tren indeks literasi keuangan nasional saat ini?
Jawab: Berdasarkan data SNLIK 2026, tingkat pemahaman keuangan masyarakat Indonesia mengalami kenaikan menjadi 69,57 persen dari sebelumnya sebesar 66,64 persen pada tahun 2025. Kenaikan ini sejalan dengan upaya berkelanjutan agar masyarakat tidak hanya mengenal layanan keuangan, tetapi juga mampu menggunakannya secara bijak dan memahami berbagai risikonya.
Tanya: Mengapa edukasi keuangan turut menyasar wilayah Kabupaten Rote Ndao?
Langkah Tepat Mengelola Keuangan Pelajar Melalui Edukasi OJK di NTT

Jawab: Pemerataan informasi keuangan didorong agar masyarakat di berbagai daerah, termasuk wilayah kepulauan, memiliki pemahaman yang baik. Edukasi ini diberikan secara langsung kepada pelajar SMA Negeri 1 Rote Selatan dalam rangkaian Puncak Hari Indonesia Menabung (HIM) Provinsi NTT 2026 sebagai bekal sebelum mereka memasuki dunia perkuliahan dan kerja.
Tanya: Apa pesan utama yang disampaikan kepada para pelajar terkait pengelolaan uang?
Jawab: Duta Literasi Keuangan OJK, Romualdus San Udika Jurnalos, mengajak pelajar memahami pengelolaan keuangan melalui uang jajan. Ia mengibaratkan pengelolaan uang seperti perahu nelayan; jika ada kebocoran kecil karena tidak direncanakan dengan baik, maka perahu bisa karam. Pelajar diajarkan menyisihkan uang, misalnya membagi 50 persen untuk kebutuhan wajib, 30 persen untuk kebutuhan lain atau berjaga-jaga, dan 20 persen untuk tabungan.
Tanya: Apa program yang didorong untuk mendukung kebiasaan menabung pelajar di NTT?
IHSG Dibuka Menguat ke Level 6.524 di Tengah Rencana Perubahan Batas Harga Saham

Jawab: Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) menjadi salah satu pendorong utama, dengan memanfaatkan produk Simpanan Pelajar (SimPel). Dalam momentum HIM 2026, NTT berhasil mencatatkan Rekor MURI untuk pembukaan rekening SimPel secara serentak terbanyak yang mencapai 220.194 rekening.
Tanya: Apakah pencatatan rekor tersebut menjadi tujuan akhir dari program edukasi ini?
Jawab: Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan bahwa rekor tersebut bukan tujuan akhir, melainkan penanda gerakan bersama dalam skala besar. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan rekening yang telah dibuka tetap aktif dan diisi secara rutin oleh para pelajar melalui pendampingan yang berkelanjutan.






