Keruntuhan Daewoo Group menjadi salah satu peristiwa paling mengguncang dalam sejarah perekonomian modern Korea Selatan. Konglomerat yang pernah menduduki peringkat kedua terbesar di Negeri Ginseng ini harus mengakhiri kejayaannya secara dramatis setelah terjerat tumpukan utang luar biasa besar, meninggalkan dampak luas bagi ribuan tenaga kerja serta peta industri otomotif global hingga ke Indonesia.
Kebangkrutan resmi Daewoo Group pada November 1999 tercatat sebagai kasus kepailitan korporasi terbesar dalam sejarah Korea Selatan, dengan total liabilitas diperkirakan mencapai 50 miliar hingga 80 miliar dolar AS. Keruntuhan ini terjadi akibat strategi ekspansi yang terlalu agresif dan salah perhitungan di tengah badai krisis keuangan Asia 1997. Ketika konglomerat lain seperti Samsung dan LG mulai memangkas pengeluaran, Daewoo justru menambah 14 perusahaan baru ke dalam jaringannya yang telah memayungi 275 anak usaha, sembari meningkatkan beban utang lebih dari 40 persen.
Ekspansi Agresif Berujung Jeratan Finansial
Didirikan pada 22 Maret 1967 oleh Kim Woo Choong, Daewoo awalnya berkembang pesat hingga mempekerjakan sekitar 130.000 orang di berbagai sektor pada pertengahan 1990-an. Di bawah naungannya, divisi otomotif Daewoo Motors memiliki jejak panjang yang berakar dari National Motor pada 1937 di Incheon. Setelah berganti nama menjadi Saenara Motor pada 1962 dan sempat merakit Datsun Bluebird sebelum bangkrut pada 1963 akibat larangan impor kit dari Jepang, asetnya beralih ke Shinjin Industrial.
Kasus Chromebook, Ibam Ajukan Kasasi, Tolak Bayar Uang Pengganti

Shinjin kemudian bermitra dengan Toyota dan General Motors (GM) pada 1972 di bawah nama General Motors Korea. Kepemilikan Shinjin berpindah ke bank negara pada 1976 sehingga berganti nama menjadi Saehan Motor, hingga akhirnya Daewoo Group mengambil alih kendali pada 1982 dan membentuk Daewoo Motor Co. Perusahaan ini sempat merilis sedan LeMans pada 1986 yang berbasis Opel Kadett dan dipasarkan di Amerika Serikat sebagai Pontiac LeMans, sebelum akhirnya berpisah dari GM pada 1992 untuk berdiri independen.
Di Indonesia, Daewoo sempat meramaikan pasar otomotif nasional pada era 1990-an bersamaan dengan masuknya Hyundai yang merakit sedan Elantra di Bekasi Barat pada 1995, disusul Kia pada 2000 pascamerger dengan Hyundai. Daewoo memasarkan model Espero melalui agen tunggal pemegang merek PT Stars Auto Dinamika sejak 1995, dengan total penjualan mencapai 1.151 unit hingga 1999.
Skandal Akuntansi dan Transformasi Aset
Di balik kemegahan bisnisnya, Daewoo menutupi kerapuhan finansial lewat rekayasa pembukuan. Para akuntan perusahaan menyembunyikan skala utang riil dengan menyuap pejabat pemerintah hingga mendekati 400 juta dolar AS. Kim Woo Choong sempat melarikan diri ke Vietnam untuk menghindari proses hukum sebelum kembali ke Korea Selatan pada 2005. Pada 2006, Kim dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara atas dakwaan penipuan akuntansi senilai 43 miliar dolar AS dan penyelundupan valuta asing sebesar 3,2 miliar dolar AS.
Jadwal Timnas Indonesia vs Yordania November 2026, Away ke Amman di FIFA Matchday

Pascaruntuhnya Daewoo, General Motors kembali masuk pada 2002 dengan mengakuisisi aset utama Daewoo Motors senilai 1,2 miliar dolar AS untuk kepemilikan 67 persen saham. Entitas baru bernama GM Daewoo tersebut kemudian berganti nama menjadi GM Korea pada 2011.
Sejumlah lini produk legendaris Daewoo dialihkan ke merek GM, seperti Daewoo Matiz yang berganti menjadi Chevrolet Spark dan Daewoo Lanos yang menjadi basis Chevrolet Aveo. Pabrik peninggalan Daewoo di Bupyeong dan Changwon kini terus beroperasi memproduksi Buick Encore GX, Chevrolet Trax, dan Chevrolet Trailblazer untuk pasar ekspor, didukung komitmen investasi modernisasi fasilitas senilai 300 juta dolar AS yang diumumkan GM pada Maret 2026.






