Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid berencana membuka lelang pita frekuensi 2,6 GHz guna meningkatkan kecepatan internet di Indonesia sekaligus mendorong pengembangan sinyal 5G. Langkah pengalokasian spektrum baru ini menjadi faktor penting bagi percepatan pembangunan infrastruktur digital nasional. Dalam perkembangannya, operator seluler seperti Telkomsel dan XLSmart telah mengantongi Surat Keterangan Laik Operasi (SKLO) dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sebagai izin resmi dari pemerintah untuk mengomersialisasikan layanan 5G bagi masyarakat.
Kehadiran pita frekuensi 2,6 GHz dinilai sangat strategis karena merupakan salah satu spektrum mid-band yang menawarkan keunggulan kapasitas dengan ketersediaan bandwidth mencapai 190 MHz. Berdasarkan laporan dari GSMA Intelligence, pita frekuensi 2,6 GHz telah diimplementasikan di lebih dari 80 negara untuk penggelaran jaringan 4G dan 5G. Selain itu, pita frekuensi radio 2,6 GHz yang beroperasi menggunakan moda Time Division Duplex (TDD) didukung oleh ekosistem perangkat 4G dan 5G terbesar kedua secara global, sehingga mempermudah kesiapan perangkat bagi pengguna.
Update Penanganan Gempa NTT, 87 Korban Jiwa, 150.576 Warga Mengungsi, dan Pengerahan Bantuan Skala Penuh

Dari sisi infrastruktur jaringan, XLSmart saat ini didukung oleh lebih dari 253.000 BTS yang melayani lebih dari 69 juta pelanggan. Layanan XL Ultra 5G+ sendiri telah hadir di lebih dari 50 kota dan kabupaten, dengan target ekspansi menjangkau 88 kota dan kabupaten hingga akhir tahun 2026. Kinerja jaringan operator ini tercermin dalam ajang Ookla Speedtest Awards H1 2026, di mana XL meraih empat penghargaan sekaligus, yakni Best Mobile Network, Best 5G Network, Fastest 5G, dan Best 5G Video Experience di Indonesia untuk tahun 2026. Kategori Best Mobile Network dinilai berdasarkan kombinasi kecepatan jaringan (50%), pengalaman video (25%), dan pengalaman berselancar web (25%). XL mencatatkan Connectivity Score sebesar 71,74 untuk jaringan mobile terbaik, 72,12 untuk jaringan 5G terbaik, Speed Score 51,29 untuk 5G tercepat, serta Video Score 91,6 untuk pengalaman video 5G.
Di tingkat regional, GSMA menilai bahwa Indonesia memiliki potensi ekonomi digital terbesar di kawasan Asia Tenggara. Namun demikian, GSMA juga memberikan catatan bahwa lambatnya penyediaan spektrum 5G beserta peta jalannya dapat menghambat operator seluler dalam membangun infrastruktur serta memicu ketidakpastian bagi sektor digital. Menjawab tantangan tersebut, Komdigi telah menetapkan target agar penetrasi koneksi jaringan 5G di Indonesia dapat mencapai 32 persen pada tahun 2030 mendatang.
Akselerasi Pembangunan PLTS Nasional, Target 30 GW Prabowo, Konversi 13 GW PLTD, dan Lonjakan Permintaan Data Center

Urgensi percepatan adopsi 5G sejalan dengan tren transformasi digital di sektor korporasi. Survei GSMA Intelligence terhadap lebih dari 580 perusahaan di kawasan ASEAN menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia diperkirakan mengalokasikan rata-rata 10 persen dari pendapatan mereka untuk transformasi digital pada rentang tahun 2025 hingga 2030. Sebanyak dua pertiga responden menempatkan kecerdasan buatan (AI) ke dalam tiga besar area pengeluaran utama mereka, sementara lebih dari separuh responden menilai teknologi IoT berbasis 5G krusial untuk mendorong pertumbuhan di masa depan.






