Penyelidikan kasus keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sidoarjo memasuki babak baru setelah hasil pengujian laboratorium mengonfirmasi adanya kontaminasi bakteri pada salah satu sampel makanan yang disajikan kepada para santri dan pelajar.
Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Daerah Sidoarjo yang juga menjabat Ketua Satgas MBG Sidoarjo, M Ainur Rahman, mengonfirmasi bahwa dari belasan parameter yang diuji, satu sampel dinyatakan positif terkontaminasi bakteri. Laporan hasil pemeriksaan laboratorium ini telah diteruskan kepada Bupati Sidoarjo serta diserahkan kepada pihak kepolisian.
Polres Sidoarjo dijadwalkan menyandingkan dokumen uji laboratorium milik pemerintah daerah tersebut dengan hasil pemeriksaan forensik kepolisian untuk melengkapi proses penyelidikan yang tengah berjalan.
Kendati hasil pengujian menunjukkan indikasi kontaminasi, jenis bakteri spesifik maupun jenis menu yang dinyatakan positif belum diumumkan secara terbuka. Ainur menyampaikan bahwa perincian teknis akan dijelaskan langsung oleh pihak berwenang, termasuk Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo.
Pertamina Buka Suara soal Pembatasan Pertalite di Luwu Utara

Pemerintah daerah juga menegaskan bahwa temuan positif tersebut belum serta-merta memastikan makanan sebagai satu-satunya penyebab utama keracunan massal. Faktor lain seperti kualitas air bersih, higienitas bahan baku mentah, hingga kebersihan lingkungan pengolahan masih masuk dalam pertimbangan penelusuran.
Dampak dan Penanganan Korban di Tanggulangin
Peristiwa keracunan tersebut sebelumnya menimpa 748 orang, terdiri atas santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam dan siswa di 19 sekolah di wilayah Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo. Para korban mengalami gejala mual, muntah, hingga pusing setelah menyantap paket MBG pada Selasa (1/9) siang yang berisi menu nasi putih, orak-arik telur, tempe bumbu bali, tumis buncis baby corn, dan buah apel.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo hingga Kamis (4/9) siang, penanganan medis berhasil memulihkan sebagian besar korban. Sebanyak 728 orang telah diperbolehkan pulang untuk rawat jalan, sementara 20 orang lainnya saat itu masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Bro Ron Ungkap Rencana Jokowi Hadiri Rakorda PSI Jawa Barat Akhir September 2026

Evaluasi Layanan dan Legalitas Dapur SPPG
Menindaklanjuti insiden tersebut, operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah langsung dihentikan sementara. Imbasnya, penyaluran MBG untuk 18 sekolah terdampak ditahan, sedangkan kebutuhan makan harian para santri dialihkan kembali ke dapur internal pondok pesantren masing-masing.
Badan Gizi Nasional (BGN) sempat menawarkan opsi pengalihan distribusi makanan ke SPPG alternatif, namun usulan tersebut masih dalam pembahasan Pemkab Sidoarjo. Pemkab memastikan tidak membatalkan program MBG secara keseluruhan, melainkan menuntut evaluasi menyeluruh terkait tata kelola, sanitasi, dan pengawasan di lapangan.
Evaluasi pengawasan ini turut menyoroti persoalan sertifikasi higienis. Di Kabupaten Sidoarjo, tercatat ada 21 SPPG yang telah beroperasi berdasarkan izin operasional dari BGN, meskipun unit-unit tersebut belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dari otoritas kesehatan setempat.






