Guna menghindari risiko runtuhnya struktur bangunan akibat gempa susulan yang terus berulang, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengoperasikan rumah sakit lapangan berbasis tenda udara (inflatable) di Nusa Tenggara Timur. Fasilitas darurat tersebut kini aktif melayani tindakan medis dan bedah darurat di Aeramo, Kabupaten Nagekeo, serta kawasan RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai.
Langkah penempatan tenda udara diambil menyusul aktivitas seismik tinggi di wilayah Flores yang mencatat 7.259 kali gempa sejak 15 Agustus hingga Selasa (25/8). Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Agus Jamaludin, menyatakan hingga Rabu (26/8), bencana gempa bumi telah merenggut 105 korban jiwa, menyebabkan 385 orang luka berat, dan 1.287 orang luka ringan. Bencana ini berdampak pada 1,91 juta jiwa di tujuh kabupaten, dengan lebih dari 185 ribu warga mengungsi di 444 titik penampungan.
Mitigasi Gempa Bumi di Indonesia Harus Berbasis Karakteristik Wilayah

Keberadaan tenda udara memungkinkan tim medis menggelar prosedur operasi secara steril dan aman dari ancaman runtuhan gedung. Di RS lapangan Aeramo, tim medis gabungan telah menuntaskan operasi pada delapan pasien per Selasa (25/8), termasuk penanganan kasus fraktur multipel di area selangka, lengan bawah, dan pergelangan kaki, serta operasi patah tulang paha pada seorang anak berusia 11 tahun. Pelayanan diperkuat oleh 392 tenaga kesehatan, ditambah 207 relawan medis pusat dan 78 relawan intensif yang bertugas selama 14 hari untuk menyokong 70 rumah sakit dan 444 puskesmas di wilayah terdampak.
Korban Gempa NTT Capai 105 Orang, 6.094 Pengungsi Mulai Kembali ke Rumah

Kemenkes saat ini juga mempercepat pendirian tambahan RS lapangan di Stadion Golo Dukal, Manggarai, guna memperluas daya tampung layanan bedah. Selain penanganan cedera fisik, pos kesehatan di pengungsian menangani 9.668 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) serta memberikan vaksinasi lengkap bagi 35 kasus gigitan hewan penular rabies di Nagekeo.






