Tingkat ketergantungan masyarakat terhadap pengeluaran langsung dari kantong pribadi (out-of-pocket) untuk biaya pengobatan dan perawatan kesehatan di Indonesia masih tergolong tinggi. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi sektor proteksi finansial, terutama di tengah ancaman lonjakan inflasi medis yang diproyeksikan berpotensi mencapai hingga 17 persen pada tahun 2026.
Kenaikan biaya medis yang substansial tersebut menuntut peran industri asuransi untuk terus memperluas porsi perlindungan asuransi kesehatan masyarakat. Ketergantungan terhadap pembayaran mandiri dinilai membebani keuangan rumah tangga jika tidak diimbangi dengan kepemilikan polis asuransi yang memadai untuk mitigasi risiko kesehatan.
Kinerja dan Pertumbuhan Sektor Asuransi
Di tengah tantangan biaya kesehatan, industri perasuransian nasional secara umum menunjukkan kinerja pertumbuhan yang positif. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total aset industri asuransi Indonesia per Juli 2026 berhasil mencapai Rp 1.172,9 triliun. Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 1,59 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy).
IHSG Parkir di Zona Merah, Tertekan Kinerja Saham-Saham Ini

Kontribusi positif juga terlihat pada lini asuransi jiwa. Pada sektor ini, perolehan premi bisnis baru mencatatkan pertumbuhan sebesar 11,5 persen hingga menembus angka lebih dari Rp 21 triliun. Peningkatan premi ini diiringi pula oleh perluasan jangkauan proteksi, yang ditandai dengan kenaikan jumlah tertanggung sebesar 23,8 persen menjadi lebih dari 153 juta orang.
Pertumbuhan kinerja bisnis turut dicatatkan oleh pelaku industri perasuransian. Prudential Indonesia membukukan realisasi pertumbuhan premi sebesar 25 persen secara tahunan dengan total mencapai Rp 12,2 triliun sepanjang periode Semester I-2026.
Gubernur BI Destry Damayanti Lantik Mal Isnaini Jadi Kepala DKMP

Penanganan Inflasi Medis dan Porsi Asuransi Kesehatan
Kendati mencatat tren ekspansi aset dan kenaikan premi, industri asuransi masih menghadapi pekerjaan rumah untuk mendongkrak penetrasi asuransi kesehatan di tengah tingginya beban biaya out-of-pocket masyarakat serta potensi lonjakan inflasi medis 2026.
Persoalan mengenai dinamika inflasi medis, penguatan porsi perlindungan kesehatan, serta strategi pelaku industri perasuransian tersebut dibahas dalam dialog program Power Lunch CNBC bersama Chief Customer & Marketing Officer Prudential Indonesia, Karin Zulkarnaen, yang dipandu oleh Shania Alatas pada Selasa (15/9/2026).






