Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda mulai melanda kawasan pesisir Kabupaten Serang, Banten, pada Sabtu (5/9/2026) malam. Guguran abu tersebut memicu keluhan kesehatan dari masyarakat setempat, seperti mata perih dan sakit tenggorokan, sekaligus mengganggu aktivitas belajar mengajar di sejumlah sekolah.
Kondisi paparan abu yang menyelimuti permukiman direspons dengan kekhawatiran oleh warga dan pihak tenaga pendidik. Kepala SDN Pasir Menteng, Kecamatan Cinangka, Ajat Sudrajat, mengungkapkan bahwa abu vulkanik menimbulkan rasa tidak nyaman saat beraktivitas di luar ruangan, terutama bagi mereka yang tidak mengenakan alat pelindung diri.
Singgung Semangat Reformasi 1998, AHY Ingatkan Netralitas TNI dan Polri

Ajat menjelaskan bahwa perjalanan tanpa masker terasa sakit di tenggorokan, begitu pula mata yang terasa perih jika tidak menggunakan kacamata. Meskipun sebaran abu tidak tampak sangat pekat di udara lepas, endapan debu terlihat jelas menumpuk di fasilitas Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Anak Krakatau. Aktivitas erupsi ini turut menimbulkan kecemasan di tengah masyarakat dan berdampak pada berkurangnya kehadiran siswa di sekolah.
Untuk memastikan kondisi riil, Ajat mendatangi langsung Pos PGA Anak Krakatau guna memperoleh data valid terkait status gunung api tersebut. Keterangan resmi tersebut dibutuhkan agar pihak sekolah dapat menyampaikan penjelasan yang akurat kepada siswa dan wali murid. Terkait respons warga sekitar, ia menyebut sebagian masyarakat Pasauran menganggap suara dentuman sebagai hal biasa, namun ada pula warga yang berinisiatif mengungsi ke wilayah pegunungan demi keamanan.
Imbas Abu Vulkanik Anak Krakatau, Warga Banten Diimbau Pakai Masker

Dampak sebaran abu juga dirasakan langsung oleh warga Kampung Pasauran Satu, Desa Umbul Tanjung, Kecamatan Cinangka. Sanan (42), warga setempat, menuturkan bahwa abu vulkanik terasa semakin tebal di permukiman sejak pukul 17.00 WIB. Sanan turut mendatangi pos pemantauan setelah mendengar suara gemuruh serta merasakan getaran yang terjadi terus-menerus sejak Jumat (4/9) malam.






