Menyisihkan dana rutin sebesar Rp300 ribu per bulan dinilai mampu membentuk akumulasi kekayaan signifikan dalam jangka panjang jika ditempatkan secara disiplin pada instrumen pasar modal yang tepat.
Strategi tersebut diungkapkan oleh Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDIP, Harris Turino, dalam pemaparannya pada acara Lampung Financial Festival di Hotel Novotel, Bandar Lampung, Sabtu (5/9/2026).
Harris menyarankan generasi muda mulai menyisihkan sekitar 20 persen dari uang saku atau setara Rp300 ribu setiap bulannya untuk berinvestasi. Instrumen yang disarankan adalah saham, dengan menerapkan metode pembelian berkala dan menyimpannya dalam jangka panjang.
Menurut Harris, konsistensi menabung saham tersebut memiliki efek akumulasi modal yang kuat seiring berjalannya waktu hingga masa dewasa.
Prabowo Mau Tutup Lagi 700 BUMN Tahun Ini, Negara Hemat Rp 100 Triliun

"Anda setiap bulan bisa investasi Rp300 ribu saja, tiga ratus ribu saja, beli saham terus diam, beli lagi bulan depan terus diam, beli lagi bulan depan terus diam, saya jamin umur 40 tahun Anda akan jadi orang yang kekayaannya setara dengan Pak CT," ujar Harris.
Kriteria Pemilihan Saham untuk Pemula
Agar strategi investasi berjalan aman, Harris mengingatkan pemula untuk mempelajari profil dan fundamental bisnis emiten sebelum memutuskan membeli saham. Ia menekankan agar investor tidak menaruh modal pada perusahaan yang bidang usahanya belum dipahami.
Sebagai langkah awal, investor pemula dapat mempertimbangkan saham-saham yang masuk dalam indeks LQ45. Konstituen indeks ini dinilai lebih terukur karena telah melalui proses penyaringan berdasarkan rekam jejak dan kinerja operasional perusahaan.
Nabung Rp 300 Ribu per Bulan Bisa Kaya, Ini Tips Investasi untuk Anak Muda

Di samping strategi pemilihan saham, Harris juga mengimbau anak muda agar tidak mudah tergiur tawaran imbal hasil tinggi yang berpotensi menjadi modus investasi bodong.
Ia turut menyoroti fenomena instrumen aset kripto. Harris menegaskan pentingnya memahami karakter serta risiko kripto sebelum masuk ke pasar, seraya memperingatkan bahwa keputusan membeli aset hanya karena dorongan tren tanpa pemahaman matang berisiko menimbulkan kerugian.






