Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 1 persen hingga menembus level US$106 per barel pada perdagangan Selasa (15/9). Lonjakan harga energi ini dipicu oleh terhentinya operasional jaringan pipa minyak krusial East-West di Arab Saudi menyusul eskalasi serangan terhadap infrastruktur energi negara kerajaan tersebut.
Kenaikan terjadi pada dua acuan minyak utama dunia. Minyak mentah Brent naik US$1,24 atau 1,18 persen ke posisi US$106,93 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat bertambah US$1,29 atau 1,24 persen menjadi US$102,65 per barel.
Ancaman Pasokan Akibat Gangguan Jalur East-West
Jaringan pipa East-West difungsikan untuk mengalihkan pengiriman minyak mentah dari wilayah timur Saudi menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah, sehingga jalur ekspor dapat berjalan tanpa harus melewati Selat Hormuz. Jalur pipa ini menampung kapasitas alih arus sekitar 4 juta barel per hari atau setara dengan 4 persen pasokan minyak dunia.
Rupiah Menguat Tipis ke Posisi Rp17.667 per Dolar AS

Gangguan pada pipa tersebut berawal dari serangkaian serangan pada Jumat (11/9), yang menurut otoritas di Riyadh dilancarkan oleh kelompok bersenjata binaan Iran di Irak. Sejumlah pembeli dan pedagang minyak Saudi memperingatkan bahwa Arab Saudi berisiko kehabisan stok minyak untuk diekspor dalam hitungan hari apabila operasi pipa tidak lekas dipulihkan, yang berpotensi memangkas pasokan global hingga 4 persen.
Eskalasi Militer dan Penurunan Lalu Lintas Selat Hormuz
Kekhawatiran pasar kian diperparah oleh aksi militer lanjutan dari Yaman. Pasukan Houthi yang disokong Iran meluncurkan rentetan serangan rudal dan drone ke wilayah selatan Arab Saudi pada Senin (14/9). Serangan tersebut menghantam pangkalan udara militer Khamis Mushait, menyasar sejumlah fasilitas strategis termasuk landasan pacu, radar, hanggar pesawat, dan depot amunisi.
Breaking News! IHSG Pagi-Pagi Sudah Anjlok 1%, Ini Penyebabnya

Perkembangan militer ini langsung memukul stabilitas kawasan. Negara-negara Arab di Teluk memutuskan menunda rencana perundingan dengan pihak Iran.
Di saat yang sama, arus pengiriman logistik di Selat Hormuz terus tertekan. Jumlah lalu lintas kapal komoditas yang melintasi selat strategis tersebut tercatat menyusut hingga di bawah 10 transit per hari pada akhir pekan, merosot dari rata-rata 14 transit per hari pada 10 hari sebelumnya. Sebelum pecahnya konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada 28 Februari lalu, rute perairan Selat Hormuz biasanya dilewati oleh sekitar seperlima dari total pasokan minyak global.






