Harga aset kripto Bitcoin mengalami lonjakan yang cukup signifikan sebesar 22 persen dalam kurun waktu sepekan. Nilai koin digital tersebut berhasil ditutup pada level US$ 76.943,90 atau setara dengan nilai Rp 1,3 miliar jika dihitung berdasarkan acuan kurs Rp 17.694 per dolar AS. Kenaikan harga penutupan ini menunjukkan lonjakan yang substansial jika dibandingkan dengan posisi harga Bitcoin pada awal pekan sebelumnya, di mana saat itu nilainya masih berada di level US$ 62.800 atau setara dengan Rp 1,1 miliar.
Lonjakan tajam yang terjadi pada harga Bitcoin tersebut tidak hanya berdampak pada pergerakan pasar aset kripto secara langsung, melainkan juga turut mengerek performa saham-saham perusahaan yang terafiliasi dengan industri aset digital. Terjadinya penguatan harga Bitcoin diikuti oleh penguatan sejumlah saham terkait di pasar modal, seperti saham Coinbase yang tercatat mengalami kenaikan sebesar 8 persen. Selain itu, pergerakan positif juga dialami oleh saham Strategy yang membukukan penambahan nilai sebesar 6 persen menyusul kenaikan harga Bitcoin tersebut.
Kenaikan harga Bitcoin selama kurun waktu sepekan tersebut dipicu oleh terjadinya penurunan tajam pada imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Kondisi penurunan imbal hasil ini berlangsung setelah Departemen Keuangan AS mengambil kebijakan untuk memperbesar pembelian kembali atau buyback utang pemerintah jangka panjang. Langkah perluasan buyback utang pemerintah tersebut dilakukan oleh pihak Departemen Keuangan AS guna meredakan tekanan yang terjadi pada imbal hasil obligasi jangka panjang.
Update Penanganan Gempa NTT, 87 Korban Jiwa, 150.576 Warga Mengungsi, dan Pengerahan Bantuan Skala Penuh

Di samping faktor pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah, sentimen positif yang menyokong laju harga Bitcoin juga datang dari perkembangan regulasi. Sentimen pasar terhadap mata uang kripto ini semakin meningkat setelah pihak Gedung Putih bersama dengan sejumlah pemimpin industri kripto secara aktif mendorong penyelesaian CLARITY Act dalam kurun waktu beberapa pekan mendatang. Dorongan terhadap percepatan regulasi tersebut menjadi salah satu pendorong tumbuhnya optimisme pasar pada periode sepekan ini.
Meskipun mencatatkan kenaikan yang signifikan dalam sepekan terakhir, level penutupan harga Bitcoin saat ini sebenarnya masih berada di bawah level tertinggi yang pernah dicatatkan sepanjang tahun 2026. Pada pertengahan Januari 2026 lalu, harga Bitcoin sempat menyentuh level tertingginya untuk tahun 2026 di angka US$ 94.820. Selain itu, harga saat ini juga masih berada di bawah rekor tertinggi sepanjang masa Bitcoin, di mana rekor harga tertinggi sepanjang masa tersebut berada pada level US$ 126.198 yang dicapai pada tanggal 6 Oktober 2025.
Akselerasi Pembangunan PLTS Nasional, Target 30 GW Prabowo, Konversi 13 GW PLTD, dan Lonjakan Permintaan Data Center

Di tengah momentum penguatan harga yang terjadi, proyeksi mengenai arah pergerakan pasar Bitcoin tetap menjadi perhatian bagi para pelaku industri. Pendiri sekaligus Managing Partner Token Bay Capital, Lucy Gazmararian, menyampaikan pandangannya terkait potensi pergerakan pasar kripto ke depan. Gazmararian memproyeksikan bahwa akan ada penurunan terakhir, dan kemudian pasar diperkirakan akan turun lagi sebesar 20 persen, sehingga pola pergerakan harga tersebut sesuai dengan siklus yang terjadi pada periode-periode sebelumnya.






