Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meminta masyarakat, nelayan, dan wisatawan untuk mengosongkan seluruh aktivitas di dalam radius bahaya tiga kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau. Rekomendasi ini dikeluarkan menyusul peningkatan erupsi yang disertai suara dentuman dan gemuruh.
Tingkat aktivitas vulkanik gunung api di Selat Sunda tersebut saat ini masih bertahan pada Level III atau Siaga. Masyarakat di kawasan pesisir Banten dan Lampung diimbau untuk tetap tenang serta tidak panik terhadap kekhawatiran ancaman tsunami.
Kronologi dan Karakteristik Erupsi
Berdasarkan data pemantauan, erupsi menerus berlangsung sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB hingga Sabtu (5/9) pagi. Pada malam hari, aktivitas vulkanik terpantau melontarkan lava fountain atau lava pijar menyerupai air mancur.
Kebakaran Gudang Penyimpanan Tembakau Pabrik Rokok di Sidoarjo Hanguskan Bangunan 700 Meter Persegi

Erupsi tersebut juga memicu gempa letusan dengan amplitudo mencapai 70 milimeter dan durasi hingga 21.600 detik. Lontaran material vulkanik dari kawah aktif dilaporkan merusak perangkat kamera pengawas (CCTV) pemantau di lokasi sehingga alat tersebut berhenti beroperasi.
Evaluasi Ancaman Tsunami dan Mitigasi
Kekhawatiran warga pesisir terhadap potensi tsunami muncul akibat trauma peristiwa bencana pada 22 Desember 2018 yang dipicu oleh runtuhnya tubuh gunung api tersebut. Namun, PVMBG menegaskan kondisi saat ini berbeda.
CCTV Pemantau Anak Krakatau Rusak Usai Kena Lontaran Material Erupsi

Hasil evaluasi PVMBG menunjukkan bahwa pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau pasca-erupsi 2018 masih relatif kecil. Dengan kondisi fisik struktur tersebut, gunung saat ini dinilai tidak memiliki potensi mengalami keruntuhan masif yang dapat memicu gelombang tsunami.
Kendati risiko tsunami masif dinilai rendah, warga pesisir tetap diminta menjaga kesiapsiagaan jalur evakuasi dan memastikan titik kumpul siap digunakan. Otoritas kebencanaan juga melarang keras warga mendekati area berbahaya hanya demi mendokumentasikan fenomena erupsi tersebut.






