Militer Korea Selatan bergerak cepat mengerahkan armada jet tempur Angkatan Udara menyusul masuknya sejumlah pesawat militer Rusia ke Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ) di kawasan Laut Timur. Manuver pertahanan ini dilakukan sebagai respons siaga, sekaligus menandai aksi penerobosan udara kedua oleh pihak Rusia dalam kurun waktu beberapa pekan terakhir.
Pergerakan pesawat militer Rusia tersebut telah terdeteksi oleh radar militer Korea Selatan sebelum sempat melintasi batas zona pertahanan. Pengerahan jet tempur segera diberlakukan demi mengantisipasi segala kemungkinan di lapangan. Meski memicu ketegangan, Kementerian Pertahanan mengklarifikasi bahwa pesawat-pesawat militer Rusia tersebut tidak sampai melanggar ruang udara kedaulatan mutlak milik Korea Selatan.
Secara hukum pertahanan, ADIZ bukan merupakan ruang udara kedaulatan wilayah, melainkan area penyangga keamanan tempat pesawat asing diwajibkan mengidentifikasi diri kepada otoritas setempat demi keselamatan dan pertahanan nasional.
Penjualan Mobil China Ancam Jepang di GIIAS 2026, Ini yang Terlaris

Gesekan di udara ini mencerminkan kian rapuhnya hubungan diplomatik antara Seoul dan Moskow. Hubungan bilateral kedua negara mengalami keretakan setelah Korea Selatan ikut serta bersama negara-negara Barat menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Rusia menyusul invasi ke Ukraina. Di sisi lain, situasi di kawasan Semenanjung Korea kian sensitif lantaran Rusia kian terbuka memperkuat kerja sama militernya dengan Korea Utara.
Insiden kali ini memperpanjang riwayat penerobosan serupa. Pada akhir Juni lalu, lebih dari 10 pesawat militer gabungan Rusia dan China juga terpantau menembus zona pertahanan udara Korea Selatan. Menanggapi insiden sebelumnya, Kementerian Pertahanan China berdalih bahwa penerbangan tersebut merupakan bagian dari patroli udara strategis di atas Laut Jepang, Laut China Timur, hingga kawasan barat Samudra Pasifik.
Ini Video TV Iran yang Ancam Bunuh Putra Trump Baron-Imbalan Rp 177 M

Pihak Kementerian Pertahanan Rusia kala itu juga menyatakan kegiatan tersebut murni agenda kerja sama militer berkala yang tidak ditujukan terhadap negara ketiga. Kendati demikian, pemerintah Korea Selatan tetap melayangkan protes diplomatik keras kepada Moskow maupun Beijing, menuntut komitmen nyata agar manuver serupa tidak terus berulang di wilayah penyangga mereka.






