Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) baru-baru ini menyatakan bahwa video viral yang memperlihatkan jaringan kanker bergerak mendekati perhiasan emas adalah hoaks. Klarifikasi ini penting untuk meredakan kepanikan masyarakat yang telanjur memercayai narasi keliru di media sosial mengenai bahaya perhiasan emas. Penegasan dari otoritas tersebut menjadi titik terang yang membantah klaim tanpa dasar ilmiah tersebut.
Secara medis, kekhawatiran bahwa perhiasan emas dapat memicu kanker dibantah langsung oleh praktisi kesehatan. Dr. Indra Permana MD menjelaskan bahwa penyakit kanker muncul akibat adanya perubahan atau mutasi genetik pada sel-sel tubuh, yang kemudian membuat sel tersebut membelah secara tidak terkendali. Ia menegaskan tidak ada mekanisme ilmiah yang terbukti menunjukkan bahwa memakai perhiasan emas, seperti cincin di jari atau kalung di leher, dapat merangsang proses perkembangan sel kanker tersebut.
Ditinjau dari sudut pandang kimia, emas merupakan material dengan tingkat kestabilan yang sangat tinggi. Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, M.Sc. menerangkan bahwa logam mulia ini bahkan tidak mudah larut saat terkena cairan asam kuat seperti asam sulfat, asam nitrat, maupun asam klorida. Mengingat keringat manusia hanya mengandung asam laktat yang tergolong sebagai asam lemah, maka mustahil emas yang dipakai sebagai perhiasan sehari-hari dapat larut dan masuk ke dalam tubuh untuk memicu reaksi berbahaya.
Mengecek dan Menyikapi Status Kesejahteraan Desil 10 dalam DTSEN

Studi ilmiah juga mendukung pernyataan para ahli ini. Sebuah jurnal ilmiah bertajuk "GOLD: Human Exposure and Update on Toxic Risks" yang dipublikasikan pada tahun 2018 mengevaluasi seluruh bukti ilmiah terkait paparan emas pada manusia, potensi dampak kesehatannya, serta risiko toksisitasnya. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa risiko kesehatan dari paparan emas sehari-hari, termasuk penggunaan perhiasan, dikategorikan sangat rendah. Reaksi negatif yang paling sering ditemui akibat pemakaian perhiasan emas hanyalah alergi kontak. Masalah klinis yang lebih serius biasanya bukan disebabkan oleh emas murni, melainkan karena campuran logam lain di dalamnya seperti nikel, kromium, atau tembaga, terutama yang sering ditemukan pada emas putih.
Risiko kesehatan yang signifikan terkait emas justru tidak ditemukan pada konsumen perhiasan, melainkan di lingkungan kerja pertambangan dan pengolahan bijih emas. Risiko di area kerja tersebut lebih disebabkan oleh paparan bahan berbahaya lain yang bersifat karsinogenik seperti merkuri dan arsenik. Sebaliknya, di dunia medis, emas justru memiliki potensi pengobatan yang besar. Secara historis, senyawa emas pernah digunakan untuk mengobati penyakit autoimun tertentu seperti rheumatoid arthritis. Saat ini, dalam penelitian kanker modern, nanopartikel emas sedang diteliti sebagai media penghantar obat dan teknologi diagnostik karena sifat fisiknya yang unik.
Jadwal Srikandi Merdeka Cup 2026 Hari Ini, Live Garuda Pertiwi vs Arab Saudi

Manfaat ini diperkuat oleh jurnal lain berjudul "Metals and Breast Cancer: Risk Factors or Healing Agents?" yang meneliti efek senyawa logam terhadap kesehatan manusia, khususnya kanker payudara. Penelitian menunjukkan bahwa nanopartikel emas memiliki kemampuan untuk menembus sel kanker payudara dan meningkatkan sensitivitas sel tersebut terhadap obat kemoterapi bleomycin, sehingga efektivitas pengobatan menjadi lebih baik. Emas juga berperan dalam terapi fototermal untuk mengobati kanker serta berpotensi meningkatkan akurasi diagnosis kanker.






