Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua dilaporkan berhasil mencapai angka 5,29 persen. Pencapaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29 persen tersebut mampu dicapai oleh Indonesia di tengah kondisi ekonomi global yang berpotensi mengalami perlambatan serta adanya risiko geopolitik yang membayangi dunia internasional saat ini. Meskipun angka pertumbuhan pada kuartal kedua ini menunjukkan ketahanan ekonomi nasional, Indonesia tetap harus bersiap menghadapi tantangan struktural yang memerlukan penanganan tepat agar momentum pertumbuhan ekonomi yang positif ini dapat terus dipertahankan ke depannya.
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Andry Asmoro, menyatakan bahwa saat ini Indonesia sedang membutuhkan investasi dari investor asing untuk mengatasi tiga defisit sekaligus. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Andry Asmoro saat menjadi pembicara dalam program Squawk Box di CNBC Indonesia pada hari Kamis, 13 Agustus 2026. Kehadiran dana segar dari luar negeri dinilai menjadi solusi penting untuk menjaga stabilitas perekonomian domestik dari tekanan defisit tersebut, mengingat kebutuhan pembiayaan yang cukup besar dalam struktur perekonomian nasional saat ini.
Tiga defisit yang saat ini sedang dihadapi oleh Indonesia meliputi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), defisit pada neraca transaksi berjalan atau current account deficit, serta kesenjangan antara tabungan dan investasi yang biasa dikenal sebagai saving investment gap. Ketiga tantangan finansial ini menuntut adanya pasokan likuiditas yang memadai. Oleh karena itu, peran aktif dari para pemodal internasional sangat dibutuhkan untuk menjembatani kebutuhan pendanaan di dalam negeri guna menopang pembangunan dan stabilitas ekonomi nasional.
Menakar Arah Kebijakan Hilirisasi sebagai Simbol Kedaulatan Ekonomi Daerah

Untuk mengatasi tantangan triple defisit tersebut, pemerintah dapat mengundang investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia dalam jumlah yang lebih banyak. Menurut penjelasan Andry Asmoro, langkah ini dapat dicapai secara efektif dengan cara konsisten dalam menciptakan dan menjaga kebijakan-kebijakan yang pro terhadap investor. Konsistensi pemerintah dalam menghadirkan regulasi serta kebijakan yang ramah terhadap iklim investasi akan menjadi daya tarik utama bagi para pemodal asing untuk menempatkan dana mereka di tanah air secara berkelanjutan.
Lebih lanjut, cakupan investasi asing yang dibutuhkan oleh Indonesia saat ini tidak hanya terbatas pada sektor investasi riil saja. Skema masuknya modal asing tersebut juga mencakup investasi di pasar uang. Kombinasi aliran modal pada sektor riil dan pasar uang ini diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi stabilitas keuangan nasional, sekaligus memperkuat ketersediaan dana segar yang sangat dibutuhkan untuk mendorong aktivitas ekonomi nasional secara lebih luas dan berkelanjutan.
Upaya Pemerintah Pusat Mengatasi Kebakaran Hutan dan Lahan

Dalam penjelasannya lebih rinci, Andry Asmoro memaparkan bahwa defisit fiskal atau defisit APBN dapat diatasi dengan mengundang investor untuk membeli surat utang negara agar bisa berfungsi sebagai sumber pendanaan bagi pemerintah. Sementara itu, untuk mengatasi defisit neraca transaksi berjalan, Indonesia membutuhkan aliran dana masuk asing (foreign inflows) di sektor ekuitas atau pasar saham, obligasi, dan juga investasi langsung (direct investment). Dengan terpenuhinya kebutuhan investasi di berbagai instrumen ini, Indonesia diharapkan dapat mengatasi masalah triple defisit dengan lebih efektif demi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.






