Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI resmi membuka pendaftaran program Beasiswa Santri 2026 yang ditujukan bagi 2.500 santri duafa berprestasi di seluruh Indonesia. Bantuan pendidikan ini dirancang secara khusus untuk mendampingi serta mempersiapkan para siswa kelas 12 Madrasah Aliyah (MA) atau sederajat dalam menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi.
Peresmian program bantuan pendidikan tersebut diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Wahabiyah, Jombang, Jawa Timur, pada Sabtu (29/8). Melalui program ini, setiap santri penerima manfaat Beasiswa Santri Baznas akan memperoleh bantuan dana pendidikan sebesar Rp4 juta yang bersumber dari pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS).
Dorong Akses ke Perguruan Tinggi
Ketua Baznas RI Sodik Mudjahid menyampaikan bahwa sejak pertama kali bergulir dari tahun 2021 hingga 2025, program Beasiswa Santri telah berhasil memfasilitasi 32.418 santri penerima manfaat dari berbagai penjuru tanah air untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan tinggi.
Tembus Medan Terjal, Kapolres Manggarai Timur Salurkan Bantuan ke Warga Terdampak Gempa

Program ini juga menorehkan capaian positif dalam mengantarkan para santri menembus kampus impian. Tercatat, lebih dari 7.300 santri binaan telah berhasil lolos ke berbagai perguruan tinggi negeri (PTN), perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN), perguruan tinggi swasta (PTS) unggulan, hingga perguruan tinggi kedinasan.
Selain membuka kesempatan studi lanjut, program Beasiswa Santri memberikan dampak nyata pada mobilitas sosial keluarga penerima. Sebanyak 4.779 dari 10.000 total penerima manfaat program ini tercatat sebagai generasi pertama di keluarga mereka yang berhasil mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan tinggi dan mengejar gelar sarjana.
Gempa Susulan NTT Tembus 10.232 Kali, BMKG Aktivitas Mulai Menurun

Bantuan pendidikan ini dinilai tepat sasaran mengingat kondisi ekonomi sebagian besar keluarga santri. Berdasarkan data dari Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama RI, sekitar 60 persen orang tua atau wali santri di Indonesia secara kondisi sosioekonomi masuk ke dalam kategori desil 1, 2, dan 3.






