Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026 resmi digelar di Nusa Dua, Bali, pada 24–28 Agustus 2026. Memasuki edisi ke-11, forum internasional yang diselenggarakan oleh Telin, bagian dari Telkom Group, tersebut mencatatkan kehadiran lebih dari 2.700 delegasi dari 67 negara serta melibatkan lebih dari 1.100 perusahaan.
Partisipasi pada konferensi tahun ini meningkat signifikan dibandingkan perhelatan sebelumnya yang diikuti sekitar 1.600 delegasi dari 55 negara. Tingginya antusiasme pelaku industri telekomunikasi dan digital global juga tecermin dari agenda temu bisnis, dengan perkiraan lebih dari 4.200 pertemuan bisnis sepanjang acara, melonjak dari sekitar 2.400 pertemuan pada tahun lalu.
President Director Telkom Indonesia Dian Siswarini menilai peningkatan skala tersebut menunjukkan besarnya manfaat nyata yang dirasakan pelaku industri. Menurut Dian, momentum ini bertepatan dengan akselerasi ekonomi digital nasional, di mana nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan menembus lebih dari USD 130 miliar pada 2026 dan diproyeksikan melampaui USD 360 miliar pada 2030.
Kebakaran Desa Adat Sade, BTN dan Danantara Salurkan Bantuan untuk Ratusan Warga

Fokus Segmen Korporasi Lewat IgnitePro
Selain memperluas jejaring peserta, BATIC 2026 menghadirkan IgnitePro, sebuah forum konferensi eksekutif yang secara khusus menyasar segmen korporasi (enterprise). Mengusung tema "Unleashing Ecosystem to Drive Adaptive Progress", agenda ini menyoroti strategi kolaborasi lintas sektor dalam merespons disrupsi teknologi.
CEO Telin Abdul Rahman Ansyori menyampaikan bahwa kehadiran IgnitePro dirancang untuk memastikan pelaku industri terus adaptif terhadap perubahan lanskap bisnis. Agenda tersebut mendiskusikan berbagai topik strategis, mulai dari kecerdasan buatan mandiri (autonomous AI), teknologi komputasi awan (cloud), keamanan siber (cybersecurity), hingga infrastruktur digital pintar (intelligent digital infrastructure).
Lonjakan Kebutuhan Konektivitas dan Pusat Data
Kebutuhan kapasitas jaringan global kian mendesak seiring masifnya adopsi AI dan ekspansi pusat data. Direktur Wholesale & International Service Telkom Indonesia Budi Satria D. Purba memaparkan bahwa konektivitas antarkomputasi (compute-to-compute connectivity) untuk mendukung pemrosesan AI mengalami lonjakan kebutuhan antara 10 hingga 20 kali lipat.
Prabowo Tiba di NTT, Tinjau Penanganan Gempa 7,7 M Flores

Budi mencontohkan dinamika pemanfaatan kabel bawah laut Bifrost yang menghubungkan Singapura hingga Amerika Serikat melalui wilayah perairan Indonesia. Infrastruktur kabel tersebut membutuhkan waktu pembangunan sekitar lima tahun, namun kapasitas lintasannya sudah habis terpakai dalam kurun waktu kurang dari satu tahun operasional.
Tantangan infrastruktur dan ketersediaan konektivitas global berkecepatan tinggi ini menjadi fokus krusial, terlebih dengan terus bertumbuhnya pembangunan fasilitas pusat data dan ekosistem AI di berbagai titik strategis Indonesia, termasuk kawasan Jakarta dan Batam.






