Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur yang diselenggarakan pada 18–19 Agustus 2026. Sejalan dengan ketetapan suku bunga acuan tersebut, Bank Indonesia juga mempertahankan suku bunga deposit facility sebesar 4,75 persen dan suku bunga lending facility pada posisi 6,50 persen. Keputusan ini menandai langkah bank sentral dalam menahan tingkat suku bunga selama dua pertemuan berturut-turut, setelah sebelumnya sempat menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 basis poin pada rentang Mei hingga Juni 2026 yang mengerek BI Rate dari 4,75 persen menjadi 5,75 persen.
Sikap bank sentral yang memilih mempertahankan suku bunga acuan dinilai menjaga stabilitas beban biaya dana di tingkat korporasi dan investor. Kepala Riset Kiwoom Liza Camelia Suryanata menyampaikan bahwa tidak adanya kenaikan suku bunga tambahan ini berperan penting dalam menjaga cost of fund. Sektor perbankan turut menjadi salah satu penerima manfaat dari ketetapan ini mengingat laju pertumbuhan kredit perbankan masih berjalan solid di level 13,58 persen secara tahunan (year-on-year). Kendati demikian, Liza menilai bahwa keputusan moneter Bank Indonesia tersebut tergolong cukup market friendly, meski belum menjadi game changer utama bagi pergerakan pasar saham.
RI Punya Potensi Emas 1.800 Ton di Luar Sistem Keuangan, Mampu Perkuat Cadangan Nasional dan Saingi Posisi China

Dari kacamata industri pasar modal, ketetapan suku bunga acuan ini mendatangkan kepastian yang berharga bagi para pelaku bursa saham. Managing Director of Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su berpandangan bahwa sikap status quo Bank Indonesia memberikan kepastian bagi pasar saham karena beban biaya pendanaan yang ditanggung para emiten tidak kembali meningkat. Selain itu, BRI Danareksa Sekuritas memandang keputusan suku bunga ini cenderung netral hingga positif bagi laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) karena tidak menghadirkan kejutan pengetatan moneter yang agresif atau hawkish surprise, serta memperjelas arah kebijakan moneter domestik.
Pada segmen pasar surat utang negara, bertahannya BI Rate pada level 5,75 persen berperan dalam meredam tekanan imbal hasil dari dalam negeri. Kepala Departemen Riset PHEI Salvian Fernando mengungkapkan bahwa ketetapan suku bunga tersebut mampu mengurangi risiko kenaikan yield dari faktor domestik. Secara year-to-date per 18 Agustus 2026, yield IBPA SBN untuk tenor 10 tahun memang telah tercatat meningkat sebesar 101,03 basis poin. Di sisi lain, arus dana asing atau foreign inflow yang masuk ke instrumen obligasi domestik berada pada kisaran Rp18 triliun, meski volume aliran modal asing tersebut dinilai masih relatif kecil.
wondrX Jadi Pre-Event Danantara Housing Expo, BNI Perluas Akses Pembiayaan Hunian

Samuel Sekuritas Indonesia memproyeksikan yield SBN acuan bertenor 10 tahun berpeluang bergerak stabil di kisaran 6,5 persen hingga 7 persen seiring meredanya ancaman pengetatan moneter yang agresif. Namun, Liza Camelia Suryanata mengingatkan bahwa potensi penguatan harga obligasi bertenor panjang masih tertahan oleh tingginya yield US Treasury 10 tahun yang berada di sekitar 4,75 persen, serta dibayangi risiko inflasi global dan ketegangan geopolitik. Dengan selisih BI Rate terhadap Federal Funds Rate yang tetap berada di angka 200 basis poin serta adanya rotasi arus dana asing dari instrumen saham menuju SBN dan SRBI yang mencerminkan pilihan pada aset berisiko lebih rendah, yield SUN tenor 10 tahun diperkirakan tetap bergerak fluktuatif di sekitar level 7 persen.






