Bencana banjir besar melanda wilayah Filipina akibat dari terjangan angin muson barat daya yang secara lokal dikenal sebagai Habagat. Kejadian ini menyebabkan banjir yang merendam berbagai wilayah di Pulau Luzon, termasuk wilayah ibu kota Manila. Ketinggian air akibat banjir yang disebabkan oleh Habagat ini dilaporkan mencapai setinggi pinggang orang dewasa. Genangan air banjir tersebut merendam rumah-rumah warga serta toko dan tempat usaha milik masyarakat setempat setelah angin muson barat daya, atau Habagat, terus melanda Pulau Luzon. Situasi banjir di wilayah ini dipicu oleh adanya interaksi antara angin muson dengan serangkaian badai yang datang secara beruntun di kawasan tersebut.
Dampak dari bencana banjir ini sangat dirasakan oleh masyarakat di berbagai wilayah Pulau Luzon. Berdasarkan pernyataan resmi dari badan penanggulangan bencana nasional setempat, diperkirakan ada sekitar 110.000 keluarga yang terdampak oleh peningkatan intensitas hujan muson. Peningkatan intensitas hujan muson ini dilaporkan telah berlangsung sejak tanggal 3 Agustus. Akibat peningkatan intensitas hujan tersebut, rumah-rumah tinggal milik warga beserta toko-toko dan tempat usaha di sekitarnya pun ikut terendam oleh genangan air banjir yang cukup tinggi.
Kondisi banjir ini membuat warga harus berjuang keras untuk menyelamatkan harta benda mereka dari rendaman air. Pada hari Senin, 10 Agustus 2026, para warga terlihat membawa barang-barang mereka sambil menerjang banjir di sebuah desa yang terletak di Bagong Silangan, Quezon City, Filipina. Warga terpaksa menembus genangan air yang tinggi demi memindahkan barang-barang berharga yang masih bisa diselamatkan ke tempat yang lebih aman di tengah kepungan banjir.
Memahami Alur Dukungan Internasional dan Solidaritas Pemimpin Eropa Pascagempa Kolombia

Badan Layanan Atmosfer, Geofisika, dan Astronomi Filipina (PAGASA) memperkirakan curah hujan yang sangat tinggi masih akan mengguyur beberapa wilayah. PAGASA memperkirakan curah hujan lebih dari 200 milimeter mengguyur Benguet pada hari Senin tersebut. Sementara itu, wilayah Metro Manila dan provinsi-provinsi di sekitarnya diperkirakan menerima curah hujan sebesar 50 hingga 100 milimeter. Kondisi curah hujan yang tinggi ini meningkatkan risiko terjadinya bencana banjir susulan serta tanah longsor karena kondisi tanah yang telah jenuh air akibat guyuran hujan terus-menerus.
Bencana banjir ini juga memukul sektor usaha kecil secara signifikan dan merugikan para pedagang setempat. Salah satu warga yang terdampak langsung adalah Claudio Lilio, seorang pria berusia 51 tahun yang memiliki sebuah toko kecil yang terletak di dekat pertemuan Sungai San Mateo dan Sungai Marikina. Menurut penuturan Lilio, kawasan tempat tinggalnya memang kerap menjadi lokasi penampungan air setiap kali hujan deras turun melanda daerah tersebut. Akibat banjir kali ini, Lilio harus menghadapi kenyataan pahit karena kehilangan mata pencaharian dan pendapatan dari tokonya selama hampir tiga hari.
Presiden Kamerun Paul Biya Berada di Swiss Berminggu-minggu, Oposisi Soroti Kekosongan Institusional

Kerugian materiil pun tidak dapat dihindari oleh warga yang terdampak banjir. Selain kehilangan pendapatan harian, derasnya aliran air banjir juga menghanyutkan sejumlah barang milik keluarga Claudio Lilio dari tempat tinggal mereka. Di antara barang-barang yang hanyut terbawa arus banjir tersebut adalah meja dan kursi yang biasa digunakan oleh keluarganya untuk keperluan makan sehari-hari.






