Ibu kota Ukraina, Kyiv, kembali diguncang serangan udara besar-besaran oleh militer Rusia pada Selasa (8/9/2026) dini hari waktu setempat. Serangan bertubi-tubi menggunakan kombinasi rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) tersebut menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai tujuh warga lainnya.
Rekaman visual yang dilaporkan Reuters memperlihatkan rentetan rudal menghujani wilayah Kyiv di tengah kegelapan malam, memicu kepanikan massal hingga pemerintah setempat segera menginstruksikan warga untuk bergegas menuju tempat perlindungan bawah tanah.
Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko menyampaikan bahwa dampak hantaman rudal memicu kebakaran di berbagai titik dan mengakibatkan warga sipil sempat terjebak di dalam bangunan hunian. Pihak Administrasi Militer Kyiv merinci bahwa jatuhan puing-puing ledakan merusak sejumlah infrastruktur permukiman, termasuk gedung apartemen berlantai lima dan sebuah blok hunian bertingkat tiga.
Teleponan Sejam, Trump & Putin Sepakati Hal Ini

Eskalasi Usai Kunjungan Utusan AS
Serangan udara mematikan ini terjadi hanya berselang singkat setelah delegasi utusan perdamaian Amerika Serikat (AS), Jared Kushner dan Steve Witkoff, bertolak meninggalkan Ukraina. Pada Minggu sebelumnya, kedua pejabat tersebut baru saja menyelesaikan pertemuan langsung dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy.
Pertemuan tingkat tinggi tersebut merupakan bagian dari dorongan diplomatik pemerintahan Presiden AS Donald Trump guna mengupayakan penghentian perang antara Rusia dan Ukraina yang kini telah berlangsung sekitar 4,5 tahun. Kendati demikian, gelombang serangan rudal terbaru ke pusat Kyiv menandakan tensi medan tempur yang masih membara di lapangan.
Singapura Kalah, Ramai Orang Kaya China Kini Pindahkan Duit ke Sini

Polandia Siagakan Jet Tempur
Rentetan ledakan rudal di Kyiv langsung memicu respons kesiapsiagaan tinggi dari negara tetangga anggota NATO, Polandia. Angkatan bersenjata Polandia mengumumkan peningkatan status kewaspadaan dan segera mengerahkan operasi penerbangan militer demi mengamankan serta melindungi kedaulatan ruang udara mereka dari potensi ancaman intrusi selama serangan berlangsung.






