Infeksi Human Papillomavirus atau HPV tidak hanya menjadi masalah kesehatan yang menyerang kaum perempuan, melainkan juga menyerang laki-laki. Selama ini, perhatian masyarakat kerap tertuju pada dampak infeksi HPV pada perempuan, padahal banyak laki-laki yang terinfeksi virus HPV tanpa menunjukkan gejala apa pun. Keberadaan virus yang tidak bergejala ini membuat infeksi sering kali tidak disadari oleh para penderita pria dalam kehidupan sehari-hari.
Penyebaran virus HPV di kalangan pria tergolong cukup luas dan signifikan. Berdasarkan data yang diungkapkan, satu dari tiga pria yang berusia di atas 15 tahun terinfeksi oleh virus HPV. Di samping itu, data medis juga menunjukkan bahwa tingkat penularan virus HPV dari perempuan ke laki-laki dapat mencapai 12,3 persen. Penularan virus HPV sendiri dapat berlangsung melalui beberapa rute transmisi, antara lain melalui kontak fisik kulit ke kulit, melalui media perantara benda atau fomit, hingga melalui proses persalinan normal.
Gejala fisik akibat paparan virus ini dapat diamati melalui bentuk perubahan pada permukaan kulit. Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Perdoski), dr. Hanny Nilasari, seorang dokter spesialis lulusan Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa salah satu tanda fisik dari infeksi HPV adalah kemunculan daging tumbuh di kulit yang bentuknya menyerupai kembang kol pada area genital. Kondisi daging tumbuh ini pada umumnya tidak disertai dengan rasa nyeri dan berukuran kecil, sehingga keberadaannya sering kali sulit untuk terlihat secara langsung.
Waspada Penularan Virus HPV Melalui Kontak Seksual dan Non-Seksual

Pada laki-laki, kemunculan lesi atau daging tumbuh tersebut kerap diabaikan dan tidak terdeteksi, terutama pada kelompok laki-laki yang belum disirkumsisi atau disunat. Menurut dr. Hanny Nilasari, manifestasi lesi pada laki-laki yang belum disirkumsisi bisa berada dalam posisi tersembunyi di balik kulit area genital. Lipatan kulit di area genital tersebut akhirnya menjadi tempat yang memungkinkan bagi virus HPV untuk terus bertahan dan berkembang biak tanpa terganggu.
Dampak bahaya infeksi virus HPV dapat berkembang ke tingkat yang sangat serius apabila tidak tertangani. dr. Hanny Nilasari memaparkan bahwa jika virus HPV yang menginfeksi kulit adalah virus tipe risiko tinggi, maka infeksi tersebut dapat bersifat persisten atau menetap serta kondisinya dapat menjadi semakin berat. Proses penyakit ini bermula dari timbulnya infeksi lokal, yang selanjutnya memicu perubahan pada sel-sel tubuh menjadi lesi prakanker, sebelum akhirnya lesi tersebut berkembang menjadi ganas atau memicu timbulnya kanker. Bahkan, data mencatat bahwa risiko terjadinya kanker tenggorokan pada laki-laki mencapai empat kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan risiko kanker tenggorokan pada perempuan.
Hasil Ligue 1 Lens vs Auxerre, Florian Thauvin Tampil Gemilang, Les Sang et Or Menang Telak 5-2

Kondisi ini menimbulkan tantangan medis tersendiri karena keterbatasan sarana deteksi dini khusus untuk kaum pria. Berbeda dengan kaum perempuan yang telah memiliki metode deteksi dini berupa pemeriksaan pap smear, laki-laki saat ini sama sekali tidak memiliki metode screening serupa untuk memeriksa keberadaan virus HPV. Ketiadaan metode skrining bagi laki-laki ini membuat infeksi HPV pada pria lebih sulit ditemukan sejak tahap awal, sehingga infeksi berisiko terus bertahan, membentuk lesi prakanker, dan berkembang menjadi ancaman kanker ganas di kemudian hari.






