berputar.id
BerandaNewsHukumBeritaEkonomiNasionalInternasionalOtomotifKeuanganOlahragaTeknologiPolitikMegapolitanPopuler
Beranda/Teknologi

Teknologi AI Google Bantu Prediksi Bencana Alam Lebih Cepat

Bambang SetiawanDiterbitkan 9 Agu 2026 - 07.04 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Teknologi AI Google Bantu Prediksi Bencana Alam Lebih Cepat
Foto/Ilustrasi: mediaindonesia.com.
A-A+

Data resmi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat bahwa bencana alam telah merenggut sekitar 700.000 korban jiwa secara global dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Tidak hanya menelan korban jiwa dalam jumlah besar, berbagai bencana tersebut juga berdampak langsung pada kehidupan sekitar 1,7 miliar orang di seluruh dunia. Angka kerugian yang sangat masif ini mendorong urgensi pengembangan sistem peringatan dini yang lebih tanggap. Menanggapi situasi kritis tersebut, Google kini memfokuskan pengembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk membantu pemerintah dan komunitas lokal mendapatkan peringatan bahaya dengan lebih cepat, mulai dari ancaman banjir, badai ekstrem, hingga kebakaran hutan.

Langkah taktis yang diambil oleh Google ini menjadi bagian nyata dari dukungan terhadap inisiatif global bertajuk Early Warnings for All yang digagas oleh PBB. Salah satu bukti penerapan teknologi ini terlihat pada tahun 2025, ketika Google berkolaborasi dengan UNOSAT untuk menganalisis tingkat kerusakan infrastruktur pascabencana menggunakan pemrosesan AI. Sistem kecerdasan buatan tersebut secara efektif membantu menilai kerusakan pada lebih dari 385.000 bangunan yang terdampak oleh terjangan Badai Melissa di wilayah Jamaika. Melalui analisis cepat ini, penyaluran bantuan dan perencanaan rekonstruksi wilayah terdampak dapat berjalan lebih terarah.

berputar.id

Copyright 2026 berputar.id - All Rights Reserved.

Kategori

NewsHukumBeritaEkonomiNasionalInternasionalOtomotifKeuanganOlahragaTeknologiPolitikMegapolitan

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap

Bagaimana cara kerja teknologi Flood Hub dari Google dalam memprediksi bencana banjir sungai? Melalui platform Flood Hub, Google memanfaatkan kecerdasan buatan untuk memperkirakan potensi luapan air sungai hingga tujuh hari sebelum banjir benar-benar terjadi. Teknologi ini terus diperluas dan kini telah mencakup wilayah-wilayah berisiko tinggi di lebih dari 150 negara. Dengan memanfaatkan ekosistem digitalnya, sistem peringatan dini dari Flood Hub memiliki potensi besar untuk menjangkau sekitar 2 miliar orang di berbagai penjuru dunia. Peringatan tersebut disebarkan secara instan melalui layanan Google Search, Google Maps, serta notifikasi langsung pada perangkat Android, sehingga masyarakat memiliki waktu lebih lama untuk menyelamatkan diri dan mengamankan aset berharga mereka.

Baca Juga

Persiapan Banteng Jakarta FC Menuju Soekarno Cup 2026 di Jawa Timur

Persiapan Banteng Jakarta FC Menuju Soekarno Cup 2026 di Jawa Timur

Bagaimana AI membantu memprediksi banjir bandang di perkotaan yang sering kali terjadi secara mendadak? Berbeda dengan banjir sungai yang pergerakannya lebih mudah dipantau, banjir bandang di kawasan perkotaan sangat sulit diprediksi dengan metode konvensional karena faktor tata ruang dan perubahan cuaca yang sangat cepat. Guna mengatasi tantangan ini, Google menerapkan pemodelan AI khusus yang mengintegrasikan berbagai jenis data sensitif. AI tersebut menggabungkan data perkiraan cuaca, hasil pengukuran fisik aliran sungai, citra satelit resolusi tinggi, hingga rekaman data historis banjir di masa lalu. Melalui instrumen bernama Groundsource, Google sanggup mengidentifikasi jutaan peristiwa banjir bandang di berbagai belahan bumi sekaligus menyediakan prediksi darurat hingga 24 jam sebelum bencana terjadi.

Bagaimana mekanisme deteksi kebakaran hutan yang dikembangkan oleh Google? Untuk penanganan kebakaran hutan, Google mengandalkan sistem berbasis AI yang kini layanannya telah aktif di 34 negara. Sistem ini bekerja dengan memantau perkembangan titik api serta memetakan batas-batas kebakaran secara berkala menggunakan citra satelit. Guna mempercepat waktu deteksi dini sebelum api menyebar luas, Google juga menjalin kemitraan erat dengan Earth Fire Alliance dan Muon Space. Kolaborasi strategis ini memanfaatkan konstelasi satelit FireSat untuk menangkap data suhu permukaan bumi secara presisi, sehingga upaya pemadaman di area hutan yang sulit dijangkau dapat dilakukan lebih dini.

Baca Juga

Ruben Amorim Kagum atas Dukungan Fan AC Milan di Indonesia

Ruben Amorim Kagum atas Dukungan Fan AC Milan di Indonesia

Apa saja keterbatasan sistem AI ini dan bagaimana dampaknya terhadap masyarakat rentan? Meskipun teknologi ini menawarkan lompatan besar dalam mitigasi bencana, terdapat keterbatasan material dan ketidakpastian yang tetap harus diwaspadai. Sebagai contoh, Google sempat menarik fitur eksperimental berbasis AI di Google Earth demi mencegah penyebaran informasi visual palsu serta menjaga integritas data geografis yang krusial bagi publik. Di samping itu, efektivitas sistem peringatan dini ini sangat bergantung pada akses teknologi. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi kelompok rentan, seperti pekerja di sektor informal yang saat ini masih mendominasi dengan persentase mencapai 59,30%. Kelompok pekerja informal ini sering kali tidak memiliki akses perangkat yang memadai untuk menerima notifikasi darurat tepat waktu, sehingga kolaborasi antara pemerintah dan penyedia teknologi masih membutuhkan penyempurnaan berkelanjutan.

Ikuti berputar.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

Mitigasi Bencana

Berita Terbaru Lainnya

PHE Siapkan Inovasi Pengeboran di Wilayah New Frontier untuk Eksplorasi MigasPembangunan Off Ramp Ciawi Selatan Resmi Dimulai untuk Mengatasi Kemacetan Bogor SelatanAkses Siaran Langsung PSG vs Manchester United pada Laga Pramusim 2026Hasil Sprint Race MotoGP Inggris 2026, Dominasi Jorge Martin di SilverstoneDanantara Kucurkan Investasi 2,5 Miliar Dolar AS ke JBS Group BrasilAspirasi Mahasiswa Asal Alor Bawa Menteri Pertanian Tinjau Langsung Kondisi Pangan di NTTPolisi Tangkap Lima Pelaku Penganiayaan Karyawan Bank Keliling di TangerangDugaan Penyekapan Lansia di Apartemen Serpong dan Tindakan Kepolisian

Paling Banyak Dibaca

Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 1 Agustus 2026, Pertamax Turun Menjadi Rp 15.950 per Liter

Ekonomi

Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 1 Agustus 2026, Pertamax Turun Menjadi Rp 15.950 per Liter

2 Agu 2026

Menganalisis Peluang Timnas Indonesia di Grup A Piala AFF 2026

Olahraga

Menganalisis Peluang Timnas Indonesia di Grup A Piala AFF 2026

1 Agu 2026

Festival Seni Colour of Indonesia Dorong Kreativitas Anak Menyambut HUT Ke-81 RI

Nasional

Festival Seni Colour of Indonesia Dorong Kreativitas Anak Menyambut HUT Ke-81 RI

4 Agu 2026

Panduan Membaca Pergerakan IHSG ke Level 6.236 dan Sentimen Pasar Global

Ekonomi

Panduan Membaca Pergerakan IHSG ke Level 6.236 dan Sentimen Pasar Global

1 Agu 2026

Lonjakan Temuan Kasus Hipertensi dan Diabetes pada Program Cek Kesehatan Gratis 2026

Nasional

Lonjakan Temuan Kasus Hipertensi dan Diabetes pada Program Cek Kesehatan Gratis 2026

4 Agu 2026

Singapura Cekal Permanen Pendiri Massive Attack Usai Pengibaran Bendera Palestina di Konser

Nasional

Singapura Cekal Permanen Pendiri Massive Attack Usai Pengibaran Bendera Palestina di Konser

4 Agu 2026

馃敟

Populer

  1. 1Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 1 Agustus 2026, Pertamax Turun Menjadi Rp 15.950 per LiterEkonomi 路 2 Agu 2026
  2. 2Menganalisis Peluang Timnas Indonesia di Grup A Piala AFF 2026Olahraga 路 1 Agu 2026
  3. 3Festival Seni Colour of Indonesia Dorong Kreativitas Anak Menyambut HUT Ke-81 RINasional 路 4 Agu 2026
  4. 4Panduan Membaca Pergerakan IHSG ke Level 6.236 dan Sentimen Pasar GlobalEkonomi 路 1 Agu 2026
  5. 5Lonjakan Temuan Kasus Hipertensi dan Diabetes pada Program Cek Kesehatan Gratis 2026Nasional 路 4 Agu 2026