berputar.id
BerandaNewsHukumBeritaEkonomiNasionalInternasionalOtomotifKeuanganOlahragaTeknologiPolitikMegapolitanPopuler
Beranda/Ekonomi

Target Pertumbuhan Ekonomi Delapan Persen, Mengapa Indef Mendorong Kebijakan Outward Looking?

Marthen TandirerungDiterbitkan 10 Agu 2026 - 09.48 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Target Pertumbuhan Ekonomi Delapan Persen, Mengapa Indef Mendorong Kebijakan Outward Looking?
Foto/Ilustrasi: ekonomi.republika.co.id.
A-A+

Kebijakan ekonomi pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto kini tengah menjadi sorotan dari berbagai kalangan pengamat ekonomi. Salah satu kritik tajam datang dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) melalui Ekonom Senior Didik J. Rachbini. Menurutnya, arah kebijakan ekonomi nasional saat ini cenderung berorientasi ke dalam atau inward looking dan kurang memperhatikan sektor luar negeri. Kritik ini muncul seiring dengan adanya kebutuhan mendesak bagi Indonesia untuk bertransisi ke arah kebijakan yang berorientasi ke luar atau outward looking demi memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Untuk memahami lebih lanjut mengenai urgensi perubahan arah kebijakan ekonomi ini, berikut adalah beberapa poin penting yang dirangkum dalam format tanya jawab.

berputar.id

Copyright 2026 berputar.id - All Rights Reserved.

Kategori

NewsHukumBeritaEkonomiNasionalInternasionalOtomotifKeuanganOlahragaTeknologiPolitikMegapolitan

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap

Mengapa kebijakan ekonomi inward looking yang diterapkan saat ini menuai kritik?

Pendekatan inward looking dikritik karena dinilai membatasi potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selama ini, seluruh upaya dan dinamika ekonomi dinilai terlalu terfokus pada sektor dalam negeri yang kerap kali dikemas dengan berbagai kontroversi kebijakan. Hasil dari pendekatan yang mengabaikan sektor luar negeri ini terbukti hanya mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang moderat, yakni berada di kisaran 5 persen. Untuk keluar dari angka pertumbuhan yang stagnan tersebut, transisi ke cara pandang baru yang lebih terbuka ke pasar global dinilai sudah sangat mendesak.

Bagaimana efektivitas belanja pemerintah dalam menopang perekonomian saat ini?

Baca Juga

Faktor Domestik dan Global yang Mendorong Penguatan IHSG ke Level 6.440

Faktor Domestik dan Global yang Mendorong Penguatan IHSG ke Level 6.440

Belanja pemerintah selama ini berperan sebagai salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik. Namun, Didik J. Rachbini mengingatkan bahwa ketergantungan pada belanja pemerintah tidak akan bisa berlangsung lama atau bersifat langgeng. Anggaran belanja negara saat ini hanya berfungsi sebagai penyangga sementara agar pertumbuhan ekonomi nasional tidak merosot hingga berada di bawah angka 5 persen. Keterbatasan ini semakin diperparah oleh adanya masalah fiskal yang dihadapi pemerintah, baik dari sisi penerimaan maupun dari sisi pengeluaran, sehingga stimulus dari belanja negara hanya mampu menyangga perekonomian dalam jangka waktu yang sangat pendek.

Apa dampak penurunan jumlah kelas menengah terhadap konsumsi masyarakat?

Pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi masyarakat saat ini sedang mengalami hambatan serius akibat tergerusnya jumlah kelompok kelas menengah. Penurunan jumlah masyarakat kelas menengah ini secara langsung berdampak negatif pada tingkat konsumsi secara nasional. Karena konsumsi masyarakat melemah, mesin pertumbuhan domestik pun kehilangan daya dorongnya, sehingga menyulitkan upaya untuk mendongkrak angka pertumbuhan ekonomi ke tingkat yang lebih tinggi jika hanya mengandalkan pasar dalam negeri.

Mengapa kebijakan outward looking dianggap sebagai solusi krusial bagi Indonesia?

Baca Juga

Dinamika Nilai Tukar Rupiah dan Pasar Modal di Tengah Isu Pemilihan Gubernur Bank Indonesia

Dinamika Nilai Tukar Rupiah dan Pasar Modal di Tengah Isu Pemilihan Gubernur Bank Indonesia

Penerapan kebijakan outward looking menjadi sangat penting karena langkah ini dapat mendorong Indonesia untuk terlibat aktif dan eksis dalam kancah persaingan global. Dengan berorientasi ke luar, Indonesia memiliki peluang besar untuk mendatangkan devisa dalam jumlah yang besar. Pendapatan devisa yang tinggi ini sangat dibutuhkan untuk memperkuat fundamental ekonomi nasional dan mendukung target pertumbuhan ekonomi yang lebih agresif.

Bagaimana hubungan antara kebijakan ekspor dan transformasi industri nasional?

Hingga saat ini, sektor ekspor dinilai belum mampu menjadi mesin pertumbuhan atau growth engine yang cukup kuat untuk mendorong transformasi industri di Indonesia. Padahal, untuk menghasilkan sektor industri yang berkelas dunia, pasar domestik saja tidak akan pernah cukup. Didik J. Rachbini menekankan bahwa tidak ada jalan lain bagi pemerintah untuk mencapai industrialisasi berkelas dunia kecuali dengan mengelola sektor luar negeri secara serius melalui kebijakan yang berorientasi pada peningkatan ekspor.

Melalui analisis ini, terlihat jelas adanya keterbatasan dari instrumen ekonomi domestik yang ada saat ini. Tanpa adanya pergeseran kebijakan ke arah outward looking dan pengelolaan sektor ekspor yang lebih agresif, target pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan sulit dicapai di tengah tekanan fiskal dan penurunan daya beli masyarakat di dalam negeri.

Ikuti berputar.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

EksporPertumbuhan Ekonomi

Berita Terbaru Lainnya

Pergerakan IHSG dan Aksi Korporasi Emiten, Dividen EAST, Ekspansi SINI, dan Diversifikasi RLCODian Swastatika Sentosa Alihkan Saham Treasuri Mulai 10 Agustus 2026, Apa Saja Faktanya?Faktor Domestik dan Global yang Mendorong Penguatan IHSG ke Level 6.440Prabowo Instruksikan Pemangkasan Anak Cucu Perusahaan Pertamina dan PLNBoston Celtics Rekrut Mitchell Robinson untuk Perkuat Pertahanan Musim 2026-2027Akhir Kebersamaan Dewa United dan Jan Olde Riekerink Setelah Empat MusimPrakiraan Cuaca DKI Jakarta Senin 10 Agustus 2026, BMKG Sebut Ada Wilayah Berawan TebalPerkembangan Proyek dan Fasilitas Stasiun MRT Monas

Paling Banyak Dibaca

Jadwal UFC 330 Islam Makhachev vs Ian Garry dan Info Live Streaming

Olahraga

Jadwal UFC 330 Islam Makhachev vs Ian Garry dan Info Live Streaming

7 Agu 2026

Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 1 Agustus 2026, Pertamax Turun Menjadi Rp 15.950 per Liter

Ekonomi

Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 1 Agustus 2026, Pertamax Turun Menjadi Rp 15.950 per Liter

2 Agu 2026

Festival Seni Colour of Indonesia Dorong Kreativitas Anak Menyambut HUT Ke-81 RI

Nasional

Festival Seni Colour of Indonesia Dorong Kreativitas Anak Menyambut HUT Ke-81 RI

4 Agu 2026

Panduan Membaca Pergerakan IHSG ke Level 6.236 dan Sentimen Pasar Global

Ekonomi

Panduan Membaca Pergerakan IHSG ke Level 6.236 dan Sentimen Pasar Global

1 Agu 2026

Menganalisis Peluang Timnas Indonesia di Grup A Piala AFF 2026

Olahraga

Menganalisis Peluang Timnas Indonesia di Grup A Piala AFF 2026

1 Agu 2026

Tim Operasi Gabungan Sita Puluhan Ribu Batang Rokok Ilegal di Kota Malang

Nasional

Tim Operasi Gabungan Sita Puluhan Ribu Batang Rokok Ilegal di Kota Malang

9 Agu 2026

馃敟

Populer

  1. 1Jadwal UFC 330 Islam Makhachev vs Ian Garry dan Info Live StreamingOlahraga 路 7 Agu 2026
  2. 2Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru 1 Agustus 2026, Pertamax Turun Menjadi Rp 15.950 per LiterEkonomi 路 2 Agu 2026
  3. 3Festival Seni Colour of Indonesia Dorong Kreativitas Anak Menyambut HUT Ke-81 RINasional 路 4 Agu 2026
  4. 4Panduan Membaca Pergerakan IHSG ke Level 6.236 dan Sentimen Pasar GlobalEkonomi 路 1 Agu 2026
  5. 5Menganalisis Peluang Timnas Indonesia di Grup A Piala AFF 2026Olahraga 路 1 Agu 2026