Pemerintah Kota Pekanbaru resmi menetapkan status tanggap darurat bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul pekatnya kabut asap dan memburuknya kualitas udara hingga tingkat sangat tidak sehat. Sebagai langkah penanganan dampak kesehatan, sebanyak 21 puskesmas di seluruh wilayah Kota Pekanbaru disiagakan penuh untuk melayani masyarakat.
Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho menginstruksikan seluruh puskesmas berfungsi sebagai posko utama bagi warga yang terdampak langsung polusi asap. Fasilitas kesehatan tersebut diwajibkan tetap beroperasi melayani pasien tanpa libur selama masa tanggap darurat yang berlangsung hingga 7 September 2026.
Breaking! Gempa Bumi M 5,9 di Kepulauan Seribu Jakarta

Kesiapsiagaan fasilitas kesehatan difokuskan untuk mengantisipasi potensi lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Selain kesiapan personel medis, setiap puskesmas diinstruksikan menjamin ketersediaan logistik kesehatan, mulai dari stok masker, vitamin, hingga peralatan medis untuk penanganan gejala gangguan pernapasan.
Sempat Berhenti Imbas Gempa, Perjalanan KRL Kembali Normal

Kondisi darurat karhutla dan penurunan kualitas udara ini juga memicu kenaikan status serupa di Kabupaten Pelalawan. Untuk meredam penyebaran titik api dan kabut asap di Provinsi Riau, tim gabungan terus menggencarkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan melakukan penyemaian garam di sejumlah area terdampak, termasuk wilayah Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir.






